Showing posts with label Hidayah. Show all posts
Showing posts with label Hidayah. Show all posts

Monday, May 29, 2017

Inilah Tanda-Tanda Orang Yang Akan Meninggal Dunia. Sudah Siapkah Kita Menghadapinya?

Inilah Tanda-Tanda Orang Yang Akan Meninggal Dunia. Sudah Siapkah Kita Menghadapinya?

Ada 3 perkara yang kita tidak akan pernah mengetahuinya. Salah satunya adalah ajal / kematian.


Kematian dari seorang manusia memang tidak ada yang bisa memprediksi atau mengetahui kapan tepatnya akan tiba. Namun, ternyata ada beberapa tanda atau ciri yang bisa dilihat ketika seseorang akan meninggal dunia atau menemui ajalnya.

Tidak banyak memang orang yang menyadari dengan tanda-tanda tersebut. Bahkan banyak orang yang merasa khawatir akan kematiannya. Sebenarnya tanda atau ciri ini bisa menjadi isyarat untuk kamu agar lebih rajin lagi untuk beribadah dan menghindari berbuat dosa.

Apa saja tanda atau ciri-ciri yang bisa dilihat ketika seseorang akan meninggal dunia? Berikut ulasan selengkapnya.

1. Penglihatan menjadi kabur dan tidak bisa lagi melihat bayangan diri sendiri dicermin, namun hal tersebut hanya bisa diketahui oleh orang yang akan meninggal dunia.

2. Perubahan warna kulit lama-kelamaan akan berubah menjadi lebih pucat dan kemerahan.

3. Penglihatan menjadi hitam karena fungsi mata yang sudah tidak lagi normal, semua benda yang dilihat warnanya akan menjadi hitam.

4. Kurangnya sensitivitas indra menjadi semakin menurun, sehingga tidak bisa lagi digunakan secara normal.

5. Tangan kiri kejang-kejang terus-menerus selama beberapa waktu hingga sampai ajal tiba.

6. Perubahan kondisi di mulut seperti lidah dan gusi yang semakin kaku, bengkak, dan menebal.

7. Berkurangnya penglihatan terhadap cahaya yang masuk ke mata seperti matahari, bulan, api, dan juga cahaya lainnya yang sangat terang.

Walaupun tanda atau ciri-ciri di atas bisa dilihat oleh seseorang yang akan meninggal dunia, namun tetaplah ajal merupakan urusan Tuhan. Setidaknya dengan tanda tersebut kamu bisa lebih membekali diri dengan ibadah yang semakin berkualitas.

Dan sekarang sudah masuk bulan ramadhan, saat yang tepat untuk meningkatkan amal ibadah kita

Saturday, May 13, 2017

Jangan mempermainkan kata "Insya Allah"




Ini sebuah kisah dari ustad Felix Siauw yang perlu diperhatikan. Oh ya, Felix Siauw adalah orang Indonesia keturunan Tiong Hoa yang beragama muslim. Beliau adalah muallaf dan juga adalah pendakwah dan penulis buku Islam. Saya kagum kepada beliau dan pantas saya nobatkan sebagai panutan yang terbaik dalam menegakkan tauhid. Muallaf paling keren dan cerdas!

Mari kita dengarkan curahan hati ustad Felix Siauw.....

Saya mau cerita, boleh nggak?
Kalo nggak boleh saya cerita juga sih hehe.. Begini ceritanya, kemarin saya landing di CGK airport JKT, udah tau kan. Nungguin bagasi di CGK itu sekarang lamanyaa..! Padahal udah janji mau bawa @ummualila dan anak-anak ke dunia permainan. Padahal jadwal landing juga udah telat 3 jam, karena delay flight dari Malang. Harusnya sampe jam 12.30 ini sudah jam 15.00, wah...

Akhirnya punya ide, pergi ke Lost & Found, bilang sama petugasnya "Mas, saya mau nitip bagasi yah, nanti jam 9 malem saya ambil". Masnya menyambut baik, lalu anterin saya ke petugas pencatat, mbak berkerudung yang terlihat sibuk dan saya sampaikan lagi maksud saya.
Mbaknya nanya sambil nulis "Nama.. hape.. jam berapa datang..?"
"felix siauw mbak, hape 0813XXXXXXXX, jam 9 insyaAllah kesini lagi"

Mendengar saya bilang 'insyaAllah' mbaknya agak ketus bilang "jangan insyaAllah dong! yang pasti" dengan tatapan tajam ke saya. Agak dikit kesel, tapi masih mikir (ah sudahlah, mungkin dia lelah :D)
"Lho kok saya nggak boleh insyaAllah sih? saya kan Muslim mbak?"
"Dunia ini mana ada yang pasti, seorang Muslim bilang 'InsyaAllah' itu artinya melibatkan Allah dalam semua hal". Mbaknya nunduk aja. Pingin saya terusin nanti malah jadi ceramah hehe.. Padahal istri-anak udah nunggu. Ya sudah saya ucapin makasih dan meluncur.

Ada 2 poin yang pingin saya sampaikan pada tweeps.
Poin pertama, inilah masyarakat kita, kalo ngomong 'InsyaAllah' nggak serius, nggak paham.
"Bro, dateng ke pengajian ya besok"
"InsyaAllah ya bro!" (padahal gak niat dateng) jadi orang pahamnya 'InsyaAllah' itu nggak pasti
Jadi berkuranglah makna 'insyaAllah', yang harusnya maknanya "jika Allah menghendaki"
insyaAllah yang artinya "pasti". Hanya saja etika dalam Islam, kita nggak boleh mendahului Allah, kita akui ketergantungan kita pada Allah maka kita ucap 'InsyaAllah'. Ini poin pertama, 'insyaAllah' yang disalahgunakan, maka jadi nggak bermakna kalo nggak mau ya bilang aja, jangan pake 'insyaAllah'.

Poin kedua, banyak yang sudah berpikir sekuler, Allah hanya boleh disebut di Masjid, di Taklim, sementara di kantor jangan bawa Allah. Jadi kesannya bilang 'insyaAllah', atau kerja diawali doa, itu nggak profesional padahal seharusnya begitulah seorang Muslim. Perkara banyak yang menyalahgunakan 'InsyaAllah', ya itu tugas kita memperbaikinya bukan malah tidak menggunakan kata 'InsyaAllah'. Hobinya liberal kan gitu, standar ganda. Di Masjid boleh pake hukum Allah, di negara nggak boleh. Jangan ikut-ikutan ya.. 
"Jangan bawa agama dalam negara"
"Jangan bawa-bawa agama dalam resensi film" wajar aja, yang ngomong begini, baginya agama sampingan.

Nah, nah, jadi banggalah jadi Muslim, karena Allah Yang Maha Tinggi yang menjadikan Islam tinggi semoga kita cukup dengan Islam bangga jadi Muslim, karena itu yang kasih kita kesempatan dapet ridha Allah bukan bangga sama yang lain, apalagi ikut-ikutan liberal. Islam itu agama untuk semua orang, semua urusan, dimanapun urusannya jangan pilah-pilih, jangan sekuler-liberal, Islam ya Islam aja yang lain boleh dibaca dan dipelajari tapi yang harus diyakini, dibaca, dipelajari, dipahami dan diamalkan, hanya Islam aja.

Alhamdulillah, saya dilahirkan bukan Muslim lalu mengenal Islam karenanya bisa tahu Islam itu sempurna, karena sudah membandingkanDoain ya, semoga saya istiqamah, dan kita semua istiqamah doain juga yang masih belum bangga sama Islam, jadi bangga sama Islam.

‘Kalah’ Melawan Alquran, Dr Jeffrey Lang Menerima Islam


Sejak kecil Dr Jeffrey Lang dikenal ingin tahu. Ia kerap mempertanyakan logika sesuatu dan mengkaji apa pun berdasarkan perspektif rasional. “Ayah, surga itu ada?” tanya Jeffrey kecil suatu kali kepada ayahnya tentang keberadaan surga, saat keduanya berjalan bersama anjing peliharaan mereka di pantai. Bukan suatu kejutan jika kelak Jeffrey Lang menjadi profesor matematika, sebuah wilayah dimana tak ada tempat selain logika.

Saat menjadi siswa tahun terakhir di Notre Dam Boys High, sebuah SMA Katholik, Jeffrey Lang memiliki keberatan rasional terhadap keyakinan akan keberadaan Tuhan. Diskusi dengan pendeta sekolah, orangtuanya, dan rekan sekelasnya tak juga bisa memuaskannya  tentang keberadaan Tuhan. “Tuhan akan membuatmu tertunduk, Jeffrey!” kata ayahnya ketika ia membantah keberadaan Tuhan di usia 18 tahun.

Ia akhirnya memutuskan menjadi atheis pada usia 18 tahun, yang berlangsung selama 10 tahun ke depan selama menjalani kuliah S1, S2, dan S3, hingga akhirnya memeluk Islam.

Adalah beberapa saat sebelum atau sesudah memutuskan menjadi atheis, Jeffrey Lang mengalami sebuah mimpi.


Berikut penuturan Jeffrey Lang tentang mimpinya itu:


Kami berada dalam sebuah ruangan tanpa perabotan. Tak ada apa pun di tembok ruangan itu yang berwarna putih agak abu-abu. Satu-satunya ‘hiasan’ adalah karpet berpola dominan merah-putih yang menutupi lantai. Ada sebuah jendela kecil, seperti jendela ruang bawah tanah, yang terletak di atas dan menghadap ke kami. Cahaya terang mengisi ruangan melalui jendela itu.

Kami membentuk deretan. Saya berada di deret ketiga. Semuanya pria, tak ada wanita, dan kami semua duduk di lantai di atas tumit kami, menghadap arah jendela.
Terasa asing. Saya tak mengenal seorang pun. Mungkin, saya berada di Negara lain. Kami menunduk serentak, muka kami menghadap lantai. Semuanya tenang dan hening, bagaikan semua suara dimatikan. Kami serentak kami kembali duduk di atas tumit kami. 

Saat saya melihat ke depan, saya sadar kami dipimpin oleh seseorang di depan yang berada di sisi kiri saya, di tengah kami, di bawah jendela. Ia berdiri sendiri. Saya hanya bisa melihat singkat punggungnya. Ia memakai jubah putih panjang. Ia mengenakan selendang putih di kepalanya, dengan desain merah. Saat itulah saya terbangun.

Sepanjang sepuluh tahun menjadi atheis, Jeffrey Lang beberapa kali mengalami mimpi yang sama. Bagaimanapun, ia tak terganggu dengan mimpi itu. Ia hanya merasa nyaman saat terbangun. Sebuah perasaan nyaman yang aneh. Ia tak tahu apa itu. Tak ada logika di balik itu, dan karenanya ia tak peduli kendati mimpi itu berulang.

Sepuluh tahun kemudian, saat pertama kali memberi kuliah di University of San Fransisco, dia bertemu murid Muslim yang mengikuti kelasnya. Tak hanya dengan sang murid, Jeffrey pun tak lama kemudian menjalin persahabatan dengan keluarga sang murid. Agama bukan menjadi topik bahasan saat Jeffrey menghabiskan waktu dengan keluarga sang murid. Hingga setelah beberapa waktu salah satu anggota keluarga sang murid memberikan Alquran kepada Jeffrey.

Kendati tak sedang berniat mengetahui Islam, Jeffrey mulai membuka-buka Alquran dan membacanya. Saat itu kepalanya dipenuhi berbagai prasangka.

“Anda tak bisa hanya membaca Alquran, tidak bisa jika Anda tidak menganggapnya serius. Anda harus, pertama, memang benar-benar telah menyerah kepada Alquran, atau kedua, ‘menantangnya’, ungkap Jeffrey.

Ia kemudian mendapati dirinya berada di tengah-tengah pergulatan yang sangat menarik. “Ia (Alquran) ‘menyerang’ Anda, secara langsung, personal. Ia (Alquran) mendebat, mengkritik, membuat (Anda) malu, dan menantang. Sejak awal ia (Alquran) menorehkan garis perang, dan saya berada di wilayah yang berseberangan.”

“Saya menderita kekalahan parah (dalam pergulatan). Dari situ menjadi jelas bahwa Sang Penulis (Alquran) mengetahui saya lebih baik ketimbang diri saya sendiri,” kata Jeffrey. Ia mengatakan seakan Sang Penulis membaca pikirannya. Setiap malam ia menyiapkan sejumlah pertanyaan dan keberatan, namun selalu mendapati jawabannya pada bacaan berikutnya, seiring ia membaca halaman demi halaman Alquran secara berurutan.

“Alquran selalu jauh di depan pemikiran saya. Ia menghapus aral yang telah saya bangun bertahun-tahun lalu dan menjawab pertanyaan saya.” Jeffrey mencoba melawan dengan keras dengan keberatan dan pertanyaan, namun semakin jelas ia kalah dalam pergulatan. “Saya dituntun ke sudut di mana tak ada lain selain satu pilihan.”

Saat itu awal 1980-an dan tak banyak Muslim di kampusnya, University of San Fransisco. Jeffrey mendapati sebuah ruangan kecil di basement sebuah gereja di mana sejumlah mahasiswa Muslim melakukan sholat. Usai pergulatan panjang di benaknya, ia memberanikan diri untuk mengunjungi tempat itu.
Beberapa jam mengunjungi di tempat itu, ia mendapati dirinya mengucap syahadat. Usai syahadat, waktu shalat dzuhur tiba dan ia pun diundang untuk berpartisipasi. Ia berdiri dalam deretan dengan para mahasiswa lainnya, dipimpin imam yang bernama Ghassan. Jeffrey mulai mengikuti mereka shalat berjamaah.

Jeffrey ikut bersujud. Kepalanya menempel di karpet merah-putih. Suasananya tenang dan hening, bagaikan semua suara dimatikan. Ia lalu kembali duduk di antara dua sujud.
“Saat saya melihat ke depan, saya bisa melihat Ghassan, di sisi kiri saya, di tengah-tengah, di bawah jendela yang menerangi ruangan dengan cahaya. Dia sendirian, tanpa barisan. Dia mengenakan jubah putih panjang. Selendang (scarf) putih menutupi kepalanya, dengan desain merah.”
“Mimpi itu! Saya berteriak dalam hati. Mimpi itu, persis! Saya telah benar-benar melupakannya, dan sekarang saya tertegun dan takut. Apakah ini mimpi? Apakah saya akan terbangun? Saya mencoba fokus apa yang terjadi untuk memastikan apakah saya tidur. Rasa dingin mengalir cepat ke seluruh tubuh saya. Ya Tuhan, ini nyata! Lalu rasa dingin itu hilang, berganti rasa hangat yang berasal dari dalam. Air mata saya bercucuran.


Ucapan ayahnya sepuluh tahun silam terbukti. Ia kini berlutut, dan wajahnya menempel di lantai. Bagian tertinggi otaknya yang selama ini berisi seluruh pengetahuan dan intelektualitasnya kini berada di titik terendah, dalam sebuah penyerahan total kepada Allah SWT.

Jeffrey Lang merasa Tuhan sendiri yang menuntunnya kepada Islam. “Saya tahu Tuhan itu selalu dekat, mengarahkan hidup saya, menciptakan lingkungan dan kesempatan untuk memilih, namun tetap meninggalkan pilihan krusial kepada saya,” ujar Jeffrey kini.

Jeffrey kini professor jurusan matematika University of Kansas dan memiliki tiga anak. Ia menulis tiga buku yang banyak dibaca oleh Muslim AS: Struggling to Surrender (Beltsville, 1994); Even Angels Ask (Beltsville, 1997); dan Losing My Religion: A Call for Help (Beltsville, 2004). Ia memberi kuliah di banyak kampus dan menjadi pembicara di banyak konferensi Islam.

Ia memiliki tiga anak, dan bukan sebuah kejutan anaknya memiliki rasa keingintahuan yang sama. Jeffrey kini harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sama yang dulu ia lontarkan kepada ayahnya. Suatu hari ia ditanya oleh anak perempuannya yang berusia delapan tahun, Jameelah, usai mereka shalat Ashar berjamaah. “Ayah, mengapa kita shalat?”

“Pertanyaannya mengejutkan saya. Tak sangka berasal dari anak usia delapan tahun. Saya tahu memang jawaban yang paling jelas, bahwa Muslim diwajibkan shalat. Tapi, saya tak ingin membuang kesempatan untuk berbagi pengalaman dan keuntungan dari shalat. Bagaimana pun, usai menyusun jawaban di kepala, saya memulai dengan, ‘Kita shalat karena Tuhan ingin kita melakukannya’,”

“Tapi kenapa, ayah, apa akibat dari shalat?” Jameela kembali bertanya. “Sulit menjelaskan kepada anak kecil, sayang. Suatu hari, jika kamu melakukan shalat lima waktu tiap hari, saya yakin kami akan mengerti, namun ayah akan coba yang terbaik untuk menjawab pertanyaan kamu.”

Thursday, May 11, 2017

40 pelajaran dari nabi Muhammad (S.A.W) Part 2


21. Jgn curigaan pada temanmu.
22. Jgn pernah berdusta.
23. jgn membaui makanan saat memakannya.
24. bicara yg jelas agar org lain bisa memahami.
25. Hindari bepergian sendirian.


26. Jgn memutuskan sendiri namun berkonsultasilah dengan orang yg tahu.
27. Jangan bangga diri.
28. Jgn sedih dgn makananmu.
29. Jgn besar mulut.
30. Jgn mengusir pengemis.


31. Layani tamumu dengan baik dengan sepenuh hati.
32. Sabar ketika dalam kemiskinan.
33. Bantulah perkara kebaikan.
34. Pikirkanlah kesalahanmu dan bertaubatlah.
35.  Berbuat baiklah kepada orang yg berlaku jahat padamu.


36. Qana'ah
37. Jgn tidur terlalu sering- menyebabkan pikun.
38. Bertaubatlah minimal 100 kali sehari (Istighfaar).
39. Jgn makan dalam keadaan gelap.
40. jgn makan sepenuh-penuh mulut.

Share ke yg lain untuk mengingatkan mereka.
semoga Allah merahmati kita semua, Aamiin

cinta itu nyata

Kenapa kita tertidur ketika di masjid, namun bisa tetap terjaga saat menghadiri pesta?

Kenapa begitu susah untuk berkomunikasi dengan Allah namun begitu mudah bergosip?

Kenapa begitu mudah mengabaikan pesan ilahiah namun mudah memforward pesan yg tidak berfaidah?

Apakah anda akan mengirim ke teman2 atau mengabaikannya?

Allah berfirman:"jika engkau menolakku di hadapan teman2mu. Aku akan menolakmu di hari kebangkitan"
apabila tiap muslim mengucapkan astaghfirullah wa atubu ilaih 3 kali sekarang dan tekan tombol Share, dalam beberapa detik milyaran akan mengucapkannya dan anda tidak akan rugi maka Sebarkanlah...



40 pelajaran dari nabi Muhammad (S.A.W) Part 1


01. Jangan tidur antara fajr dan Ishraq, Asr dan Maghrib, Maghrib dan Isha.
02.hindarkan duduk dengan orang yg bau badan. Contoh (bawang)
03. Jangan tidur dekat orang yg bicara buruk sebelum tidur.
04. jangan makan dan minum dengan tangan kiri.
05. Jangan makan makanan yg dikeluarkan dr gigimu.


06.Jangan membunyikan sendi2 jari.
07. periksa sepatumu sebelum memakainya.
08. Jangan memandang ke langit ketika shalat.
09. Jangan meludah dalam toilet.
10. jangan bersihkan gigi dengan arang.


11. Duduk/jongkok baru kenakan celana.
12.  jangan patahkan benda keras dengan gigimu.
13. Jangan meniup makananmu ketika panas tapi kamu boleh mengipasinya.
14. Jngan melihat kesalahan orang lain.
15. jangan berbicara antara iqamah dan adhan.


16. Jangan bicara dalam toilet.
17. jangan membicarakan keburukan temanmu.
18. Jangan membuat temanmu marah
19. Jgn sering melihat ke belakang ketika berjalan.
20. Jgn hentakkan kakimu saat berjalan.


Share ke yg lain untuk mengingatkan mereka.
semoga Allah merahmati kita semua, Aamiin

cinta itu nyata

Kenapa kita tertidur ketika di masjid, namun bisa tetap terjaga saat menghadiri pesta?

Kenapa begitu susah untuk berkomunikasi dengan Allah namun begitu mudah bergosip?

Kenapa begitu mudah mengabaikan pesan ilahiah namun mudah memforward pesan yg tidak berfaidah?

Apakah anda akan mengirim ke teman2 atau mengabaikannya?

Allah berfirman:"jika engkau menolakku di hadapan teman2mu. Aku akan menolakmu di hari kebangkitan"
apabila tiap muslim mengucapkan astaghfirullah wa atubu ilaih 3 kali sekarang dan tekan tombol Share, dalam beberapa detik milyaran akan mengucapkannya dan anda tidak akan rugi maka Sebarkanlah...


Wednesday, May 10, 2017

Dulunya Hafal 30 Juz Semua Hilang Tak Tersisa Kecuali 2 Ayat Saja Sampai Ajal Menjemput


Lelaki gagah itu mengayunkan pedangnya menebas tubuh demi tubuh pasukan romawi. Ia adalah dulunya termasuk dari Tabi'in (270 H) yang HAFAL AL QURAN. Namanya adalah sebaik-baik nama, 'Abdah bin 'Abdurrahiim. Keimanannya tak diragukan. Adakah bandingannya di dunia ini seorang MUJAHID nan NAN HAFAL AL QURAN, terkenal akan keilmuannya, kezuhudannya, ibadahnya, puasa daudnya serta ketaqwaan dan keimanannya...?

Namun tak dinyana, akhir hayatnya mati dalam kemurtadan dan hilang semua ISI AL QURAN dalam hafalannya melainkan 2 AYAT SAJA YANG TERSISA. Ayat apakah itu?? Apakah penyebabnya..??
Inilah kisahnya :

Pedangnya masih berkilat-kilat memantul cahaya mentari yang panas di tengah padang pasir yang gersang. Masih segar berlumur merahnya darah orang romawi. Ia hantarkan orang romawi itu ke neraka dengan pedangnya.

Tak disangka pula, nantinya dirinyapun dihantar ke neraka oleh seorang WANITA ROMAWI, tidak dengan pedang melainkan dengan ASMARA.

Kaum muslimin sedang mengepung kampung romawi. Tiba-tiba mata 'Abdah tertuju kepada seorang wanita romawi di dalam benteng. Kecantikan dan pesona wanita pirang itu begitu dahsyat mengobrak-abrik hatinya. Dia lupa bahwa tak seorangpun dijamin tak lolos su’ul khotimah.

Baca juga :
       ajaran pokok agama islam mengandung 3 aspek


Tak tahan, iapun mengirimkan surat cinta kepada wanita itu. Isinya kurang lebih:

“Adinda, bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke pangkuanmu?”

Perempuan itu menjawab: “Kakanda, masuklah agama nashrani maka aku jadi milikmu.”

Syahwat telah memenuhi relung hati 'Abdah sampai-sampai ia menjadi lupa beriman, tuli peringatan dan buta Al Quran. Hatinya terbangun tembok anti hidayah.

Khotamallaahu ‘ala qulubihim wa’ala sam’ihim wa’ala abshorihim ghisyawah… Astaghfirullah, ma’adzallah. Pesona wanita itu telah mampu mengubur imannya di dasar samudra. Demi tubuh cantik nan fana itu ia rela tinggalkan islam. Ia rela murtad.

Menikahlah dia didalam benteng. Kaum muslimin yang menyaksikan ini sangat terguncang. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa seorg hafidz yang hatinya dipenuhi Al Qur’an meninggalkan Allah dan menjadi hamba salib?

Ketika dibujuk untuk taubat ia tak bisa. Ketika ditanyakan kepadanya, "Dimana Al Quran mu yang dulu?"

Ia menjawab, "Aku telah lupa semua isi Al Quran kecuali 2 ayat saja yaitu :

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ
"Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim."

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖفَسَوْفَ يَعْلَمُونَ.
"Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)."
(QS. Al Hijr: 2-3)

Seolah ayat ini adalah hujjah untuk dirinya, kutukan sekaligus peringatan Allah yg terakhir namun tak digubrisnya. Dan ia bahagia hidup berlimpah harta dan keturunan bersama kaum nashrani. Dalam keadaan seperti itulah dia sampai mati. Mati dalam keadaan MURTAD.

Ya Allah, seorang hafidz nan mujahid saja bisa Kau angkat nikmat imannya berbalik murtad jika sudah ditetapkan murtad, apalagi hamba yang banyak cacat ini. Tak punya amal andalan.

Saudaraku, doakan aku dan aku doakan pula kalian agar Allah lindungi kita dari fitnah wanita dan fitnah dunia serta dihindarkan dari ketetapan yang buruk diakhir hayat.

Ma taraktu ba’di fitnatan adhorro ‘ala ar rijaal min nisaa…


"Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yg maha dahsyat bahayanya bagi lelaki kecuali fitnah wanita." (muttafaq ‘alaih).


chat telegram Ikuti Kami di Facebook

ajaran pokok agama islam mengandung 3 aspek


Sejauh Mana Pemahaman Kita?

Tak terasa, sudah sejak lama sekali (mungkin sudah 20-an tahun atau bahkan lebih) kita menjadi sebagai seorang muslim. Nikmat yang besar ini patutlah kita syukuri, karena banyak diantara manusia yang tidak memperoleh nikmat ini. Dan nikmat inilah yang sangat menentukan bahagia atau sengsaranya kita di hari akhir nanti.

Pada kesempatan ini, tidaklah kami ingin menanyakan ‘Sejak kapan kita masuk islam?’ atau ‘Bagaimana ceritanya kita masuk islam?’ karena jawaban pertanyaan ini bukanlah suatu yang paling mendasar dan paling penting. Namun pertanyaan paling penting yang harus kita renungkan dan kita jawab pada setiap diri kita adalah: ‘Sudah sejauh manakah kita telah memahami dan mengamalkan ajaran kita ini?’ Pertanyaan inilah yang paling penting yang harus direnungkan dan dijawab, karena jawaban pertanyaan inilah yang nantinya sangat menentukan kualitas keislaman dan ketakwaan seseorang.

Allah berfirman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati di dalam kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al Ashr: 1-3)

Allah berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” (Al Hujurot: 13)

Pokok Ajaran Islam

Sebagaimana yang telah diketahui bahwa ajaran Islam ini adalah ajaran yang paling sempurna, karena memang semuanya ada dalam Islam, mulai dari urusan buang air besar sampai urusan negara, Islam telah memberikan petunjuk di dalamnya. Allah berfirman, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam menjadi agama bagimu.” (Al-Maidah: 3)

Salman Al-Farisi berkata,“Telah berkata kepada kami orang-orang musyrikin, ‘Sesungguhnya Nabi kamu telah mengajarkan kepada kamu segala sesuatu sampai buang air besar!’ Jawab Salman, ‘benar!” (Hadits Shohih riwayat Muslim). Semua ini menunjukkan sempurnanya agama Islam dan luasnya petunjuk yang tercakup di dalamnya, yang tidaklah seseorang itu butuh kepada petunjuk selainnya, baik itu teori demokrasi, filsafat atau lainnya; ataupun ucapan Plato, Aristoteles atau siapa pun juga.

Meskipun begitu luasnya petunjuk Islam, pada dasarnya pokok ajarannya hanyalah kembali pada tiga hal yaitu tauhid, taat dan baro’ah/berlepas diri. Inilah inti ajaran para Nabi dan Rosul yang diutus oleh Allah kepada ummat manusia. Maka barangsiapa yang tidak melaksanakan ketiga hal ini pada hakikatnya dia bukanlah pengikut dakwah para Nabi. Keadaan orang semacam ini tidak ubahnya seperti orang yang digambarkan oleh seorang penyair.
Semua orang mengaku punya hubungan cinta dengan Laila, namun laila tidak mengakui perkataan mereka

1. Berserah Diri Kepada Allah Dengan Merealisasikan Tauhid

Yaitu kerendahan diri dan tunduk kepada Allah dengan tauhid, yakni mengesakan Allah dalam setiap peribadahan kita. Tidak boleh menujukan satu saja dari jenis ibadah kita kepada selain-Nya. Karena memang hanya Dia yang berhak untuk diibadahi. Dia lah yang telah menciptakan kita, memberi rizki kita dan mengatur alam semesta ini, pantaskah kita tujukan ibadah kita kepada selain-Nya, yang tidak berkuasa dan berperan sedikitpun pada diri kita?

Semua yang disembah selain Allah tidak mampu memberikan pertolongan bahkan terhadap diri mereka sendiri sekali pun. Allah berfirman, “Apakah mereka mempersekutukan dengan berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedang berhala-berhala itu sendiri yang diciptakan. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada para penyembahnya, bahkan kepada diri meraka sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.” (Al -A’rof: 191-192)

Semua yang disembah selain Allah tidak memiliki sedikitpun kekuasaan di alam semesta ini. Allah berfirman, “Dan orang-orang yang kamu seru selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu, dan pada hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (Fathir: 13-14)

2. Tunduk dan Patuh Kepada Allah Dengan Sepenuh Ketaatan

Pokok Islam yang kedua adalah adanya ketundukan dan kepatuhan yang mutlak kepada Allah. Dan inilah sebenarnya yang merupakan bukti kebenaran pengakuan imannya. Penyerahan dan perendahan semata tidak cukup apabila tidak disertai ketundukan terhadap perintah-perintah Allah dan Rosul-Nya dan menjauhi apa-apa yang dilarang, semata-mata hanya karena taat kepada Allah dan hanya mengharap wajah-Nya semata, berharap dengan balasan yang ada di sisi-Nya serta takut akan adzab-Nya.

Kita tidak dibiarkan mengatakan sudah beriman lantas tidak ada ujian yang membuktikan kebenaran pengakuan tersebut. Allah berfirman, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” ( Al-Ankabut: 2-3)

Orang yang beriman tidak boleh memiliki pilihan lain apabila Allah dan Rosul-Nya telah menetapkan keputusan. Allah berfirman, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang beriman dan tidak pula perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rosul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (Al Ahzab: 36)

Orang yang beriman tidak membantah ketetapan Allah dan Rosul-Nya akan tetapi mereka mentaatinya lahir maupun batin. Allah berfirman, “Sesungguhnya jawaban orang-orang beriman, bila mereka diseru kepada Allah dan Rosul-Nya agar rosul menghukum di antara mereka ialah ucapan. ‘Kami mendengar, dan kami patuh’. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An Nur: 51)

3. Memusuhi dan Membenci Syirik dan Pelakunya

Seorang muslim yang tunduk dan patuh terhadap perintah dan larangan Allah, maka konsekuensi dari benarnya keimanannya maka ia juga harus berlepas diri dan membenci perbuatan syirik dan pelakunya. Karena ia belum dikatakan beriman dengan sebenar-benarnya sebelum ia mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah. Padahal syirik adalah sesuatu yang paling dibenci oleh Allah. Karena syirik adalah dosa yang paling besar, kedzaliman yang paling dzalim dan sikap kurang ajar yang paling bejat terhadap Allah, padahal Allahlah Robb yang telah menciptakan, memelihara dan mencurahkan kasih sayang-Nya kepada kita semua.

Allah telah memberikan teladan kepada bagi kita yakni pada diri Nabiyulloh Ibrohim ‘alaihis salam agar berlepas diri dan memusuhi para pelaku syirik dan kesyirikan. Allah berfirman, “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari kamu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.’" (Al-Mumtahanah: 4)

Jadi ajaran Nabi Ibrohim ‘alaihis salam bukan mengajak kepada persatuan agama-agama sebagaimana yang didakwakan oleh tokoh-tokoh Islam Liberal, akan tetapi dakwah beliau ialah memerangi syirik dan para pemujanya. Inilah millah Ibrohim yang lurus! Demikian pula Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengobarkan peperangan terhadap segala bentuk kesyirikan dan memusuhi para pemujanya. Inilah tiga pokok ajaran Islam yang harus kita ketahui dan pahami bersama untuk dapat menjawab pertanyaan di atas dengan jawaban yang yakin dan pasti. Dan di atas ketiga pokok inilah aqidah dan syari’ah ini dibangun. Maka kita mohon kepada Allah semoga Allah memberikan taufiq kepada kita untuk dapat memahami agama ini, serta diteguhkan di atas meniti din ini. Wallohu a’lam… chat telegram Ikuti Kami di Facebook