Showing posts with label Hijab. Show all posts
Showing posts with label Hijab. Show all posts

Sunday, October 18, 2015

Aktivitas Medsos Anda Akan Meningkatkan Saham Dosa


Selepas kita meninggal apa yang terjadi pada akun akun media sosial?
Mungkin ada yang akan ucapkan takziah. Mungkin ada yang selalu menjenguk bagi obat rindu

Tetapi... Sadarkah kita?
Gambar dan video kita. Akan terus membuat kita tersiksa di alam kubur. Gambar dan video yang tidak ditutupi auratnya

Bagaimana nanti?
Orang orang terus menerus melihatnya. Dan kadang ada gambar dan video kita yang di tag-kan ke teman-teman kita
Walaupun sudah bertahun-tahun kita mati, gambar itu terus ada saham dosa terus meningkat.

Bagaimana pernah berpikir tidak?
Lengging dan jeans ketat, bisakah menyelamatkan kita?
Baju yang tidak membalut aurat itu, bagaimana?
Mungkin kini kita masih merasa tak sabar ingin berbagi cerita dengan gambar dan video yang isinya pengumbar syahwat. Tempat-tempat yang sudah kita lewati di muka bumi-nya.
Lebih vulgar lagi film film porno. Disajikan di grup grup bernafas islami. Tanpa takut dosa. Tanpa malu. Seakan ada kebanggaan. Tak sadarkah kelak orang terdekatmu melihatnya, Anakmu, Saudaramu…

Tapi di akhirat kelak, semua itu tidak akan membawa arti. Semua hanya tinggal kenangan bagi yang masih hidup. Di alam kubur, semua itu tidak sedikitpun dapat menyelamatkan kita

Mari kita bersama-sama renungkan. Saham dosa yang terus meningkat walau setelah ketiadaan kita di muka bumi sampai kita di akherat. Stop umbar gambar dan video porno. Stop tayang birahi setan. Ganti dengan menu menu ilmu. Tutupilah auratmu sebelum auratmu ditutupkan. Peliharalah dirimu sebelum dirimu di kafankan
Jagalah harga diri sebagai seorang muslim muslimah sejati.
Mati itu pasti.
Persiapkan diri untuk mati itu perlu.

Semoga allah subhanahu wa ta’ala ridha dengan renungan ini.
Aamiiiin.

Apabila ada kebaikan dalam catatan ini, maka sebaiknya mari kita sebarkan untuk dibaca oleh orang yg kita cinta

“Orang yang menyeru (menyuruh/menasehatkan) kepada kebaikan akan memperoleh pahala seperti orang yang mengamalkan seruannya, tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkan sedikitpun.
Sebaliknya, orang yang menyeru kejahatan akan mendapatkan dosa seperti orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi dosa orang yang mengamalkannya sedikitpun.”
(hr. Muslim)


Ini suatu peringatan wajib kita renungkan bersama, pikirkan bersama, jika suatu hari nanti kita mati, akun media sosial hanya kita yang tahu password-nya dan hanya kita yang bisa akses. Sulit untuk menonaktifkan akun, terus mau bagaimana lagi... Susahnya apa sih jadi orang baik.



Monday, April 1, 2013

Mahasiswi non-Muslim mengaku tertarik berkerudung

Mahasiswi non-Muslim mengaku tertarik berkerudung dalam tantangan Hari Hijab di Universitas Boston.

BOSTON – Mahasiswi non-Muslim di Boston University dengan sukarela menjalani satu hari mereka dengan mengenakan kerudung sebagai bagian dari bulan Bulan Kesadaran Islam Maret ini dalam rangka untuk mengoreksi kesalahpahaman tentang konsep Islam dan hijab, seperti dilansir OnIslam pada Jumat (29/3/2013).


“Saya melihat posternya di link GSU dan berpikir bahwa ini adalah hal yang sangat menarik untuk dilakukan,” kata Dian Qu, seorang mahasiswi Seni dan Sains, kepada BU Today.

“Saya meminta mereka untuk menunjukkan pada saya bagaimana cara memakainya, tapi saya lupa, jadi saya memakainya dengan cara saya sendiri,” Qu, yang berasal dari Cina, menambahkan.

Ia adalah salah satu dari 40 wanita non-Muslim di BU yang mengajukan diri untuk menghabiskan satu harinya dengan mengenakan kerudung sebagai bagian dari tantangan Hari Hijab di Boston University.

Teman lelakinya memaksanya untuk melepas kerudung yang ia pakai saat mereka berjalan bersama-sama. Dan ia menolak.

“Saya hanya berbalik dan berjalan sendiri,” katanya.

Hari hijab adalah salah satu dari beberapa acara yang disponsori oleh Masyarakat Islam BU sebagai bagian dari Bulan Kesadaran Islam pada Maret.

Mendaftar di asrama mereka atau pada link George Sherman Union, para mahasiswi diberi link video instruksional dan tombol merah muda bertuliskan ” Tantangan Hari Hijab BU-Ask Me About My Hijab.”

Sonia Perez Arias, mahasiswi lainnya mengatakan temannya tersenyum ketika melihat ia berpenampilan baru di Commonwealth Avenue dan menyapa temannya dengan kata “Salaam”.

“Saya ingin melakukan hal-hal yang menantang saya,” kata Arias.

“Orang-orang Muslim memberi salam kepada saya dalam bahasa Arab,” kata Perez Arias, yang menyatakan dirinya adalah seorang ateis.

“Saya tidak tahu bagaimana menjawabnya.”

Sedangkan Anya Gonzales merasakan apa yang ia sebut sebagai “rasa hormat yang baru ditemukan” karena Islam, sementara Richa Kaul yang awalnya mengaku merasa takut, akhirnya memperoleh pemahaman dan keyakinan.

“Saya merasakan penghormatan baru yang dirasakan para perempuan Muslim,” kata Gonzales.

Kaul, seorang Hindu, bergabung dengan tantangan ini dengan rasa ingin tahu dan ingin menunjukkan “solidaritas dengan budaya Islam.”

“Satu-satunya saat di mana saya merasa takut atau cemas adalah tepat sebelum saya membuka pintu ke ruang kelas saya, beberapa orang menengok ke arah saya. Dalam hal ini saya bisa melihat bahwa pertama-tama yang mereka lihat adalah kerudung Anda, baru kemudian Anda.”

Mendukung hari hijab, para non-Muslim memujinya karena memberi pemahaman yang benar tentang Islam dan hijab.

“Saya salut pada para mahasiswi Boston University yang rela mengambil bagian dalam tantangan Hari Hijab dan memutuskan untuk mengalami penghargaan subjektif yang mungkin muncul dengan pilihan pribadi mereka atau bahaya menjadi obyek tatapan publik yang menyatakan permusuhan,” kata Shahla Haeri, seorang dari asosiasi professor antropologi jurusan Seni & Sains , yang telah banyak menulis tentang dinamika agama, hukum, dan gender di dunia Muslim.

Hari hijab bukanlah satu-satunya acara yang diselenggarakan universitas tersebut selama Bulan Kesadaran Islam. Beberapa acara lainnya yang bertujuan untuk memberi pemahaman yang benar mengenai Islam juga diselenggarakan di sana.

6 Jenis Perempuan Yang Wajib Dijauhi


Lelaki digalakkan untuk mencari isteri solehah. Jauhi jenis perempuan-perempuan di bawah untuk dijadikan isteri niscaya kamu akan bahagia :

1. Al-Anaanah : Banyak keluh kesah. Yang selalu merasa tak cukup, apa yang diberi semua tak cukup. Diberi rumah tak cukup, diberi motor tak cukup, diberi kereta tak cukup. Tak ridho dengan pemberian yang diberi suami. Asyik ingin memenuhi kehendak nafsu dia saja, tanpa menghiraukan perasaan suami, tak hormat kepada suami apalagi berterima kasih pada suami. Bukannya hendak menolong suami, apa yang suami beri pun tak pernah puas. Ada saja yang tak cukup.

2. Al-Manaanah : Suka mengungkit. Kalau suami melakukan perkara yang dia tak berkenan maka diungkitlah segala hal tentang suaminya itu. Sangat mudah hendak membicarakan perihal suami. Tak mengenang budi, tak bertanggungjawa­b, tak sayang dan macam-macam. Walaupun suaminya sudah memberi perlindungan macam-macam padanya.

3. Al-Hunaanah : Ingin pada suami yang lain atau berkenan kepada lelaki yang lain. Sangat suka membanding-bandingkan suaminya dengan suami/lelaki lain. Tak ridho dengan suami yang ada.

4. Al-Hudaaqah : Suka memaksa. Bila hendak sesuatu maka dipaksa suaminya melakukannya. Pagi, petang malam asyik menekan dan memaksa suami. Adakalanya dengan berbagai ancaman. Ingin lari, ingin bunuh diri, ingin membuat malu suami. Suami dibuat seperti orang suruhannya, bukan sebagai pemimpinnya. Yang dipentingkan adalah kehendak dan kepentingan dia saja.

5. Al-Hulaaqah : Sibuk bersolek atau tidur atau santai-santai hingga lalai dengan ibadah-ibadah asas, seperti solat berjemaah, wirid zikir, mengurus rumah-tangga, berkasih sayang dengan anak-anak.

6. As-Salaaqah : Banyak berbicara, bergosip. Siang malam, pagi petang asyik bergosip. Apa saja yang suami kerjakan selalu tidak benar dimatanya. Zaman sekarang ini bergosip bukan saja berbicara di depan suami, tapi dengan telefon, SMS, internet, dan macam-macam cara yang lain . Yang jelas isteri tu asyik menyusahkan suami dengan kata-katanya yang menyakitkan. 



أَسْتَغفِرُاللهَ الْعَظيِمْ ..


Semoga bermanfaat...


Thursday, December 20, 2012

Dedikasi seorang Ibu Luar biasa



Ibu Ainun Habibie :

Mengapa saya tidak bekerja ?
Bukankah saya dokter?
"Memang."
"Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu."

Namun saya pikir : buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yg barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami kehilangan kedekatan pada anak sendiri?

Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk pribadinya sendiri ?
"Anak saya akan tidak memiliki ibu."

Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja?
"Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Bertahun- tahun kami bertiga hidup begitu."

Jangan biarkan Anak-anakmu hanya bersama pengasuh mereka.
Bagaimana bila dibantu pengasuhan dengan kakek neneknya?
"Sudah cukup rasanya membebani orangtua dengan mengurus kita sejak lahir sampai berumah tangga."

Kapan lagi kita mau memberikan kesempatan kepada orangtua untuk penuh beribadah sepanjang waktu di hari tuanya.
Mudah2an ini bisa jadi penyemangat dan jawaban utk ibu-ibu berijazah yang rela berkorban demi keluarga & anak2nya.
Karena ingin Rumah tangganya tetap terjaga dan anak-anak bisa tumbuh dengan penuh perhatian, tidak hanya dalam hal akademik, tapi juga untuk mendidik agamanya, karena itulah sejatinya peran orangtua.

Belajar dari kesuksesan orang-orang hebat, selalu ada pengorbanan dari orang-orang yang berada dibelakangnya, yang mungkin namanya tidak pernah tertulis dalam sejarah.

Berbanggalah Engkau sang Ibu Rumah Tangga, karena itulah pekerjaan seorang wanita yang paling mulia..

Tuesday, January 10, 2012

Jawaban atas JILBAB


bismillahirrohmanirrohiim..........

Beberapa selebritis muslimah itu ketika ditanya kapan akan mengenakan jilbab, maka rata-rata jawabannya adalah "Saya belum siap untuk berjilbab sekarang" atau "Biarlah saya menjilbabi hati saya dulu" atau "Lebih baik saya jilbabi hati saya daripada berjilbab tapi hatinya tidak" atau paling mending "Saya ingin berjilbab setelah benar-benar siap, kalau sudah sekali berjilbab tidak akan saya lepas".

Orang Jawa bilang ajining diri soko ing ati, ajining rogo soko ing busono, ajining urip soko ing laku (Kemuliaan diri seseorang ditentukan dari ucapannya, kemuliaan tubuhnya ditentukan dari busananya, kemuliaan hidupnya ditentukan dari perilakunya). Begitu pula agama Islam merincikan setiap hak dari diri manusia. Jiwanya punya hak, raganya punya hak, fikiran punya hak, perasaan punya hak dan seterusnya. Semua ditunaikan dan diatur oleh agama.

"Menjilbabi" hati (dengan menjaganya dari penyakit-penyakit hati semacam riya', takkabur, 'ujub, cinta dunia dan kedudukan secara berlebihan) adalah bagian hak dari hati.
Begitu juga, tubuhpun memiliki haknya sendiri, yaitu ditutupi sedemikian rupa sehingga terjaga harga dan kemuliaannya.

Kalau seorang muslimah mengatakan akan menjaga atau menjilbabi hatinya "saja" berarti dia masih mengabaikan hak tubuh untuk ditutupi dengan busana yang layak sebagaimana agama ajarkan. Tidak perlu menilai orang-orang yang sudah berjilbab tapi hatinya penuh keburukan. 

Orang yang berjilbab tapi hatinya masih buruk itu ada nilai tersendiri di sisi Allah, dan orang yang tidak berjilbab tapi hatinya bersihpun ada nilai tersendiri di sisi Allah. Tapi lebih mulia dari keduanya yaitu orang yang berjilbab dan bersih hatinya.

Simpel saja, agama memerintahkan wanita berjilbab (dengan benar) tidak lain tidak bukan adalah untuk memuliakan wanita itu sendiri.  Tapi 'wanita-wanita pintar' abad ini justru menilai yang bukan-bukan bahkan menilai perintah jilbab ini sebagai ajaran yang tidak penting, na'udzubillah. Bahkan sering terlontar juga sikap "menggurui" agama, mengapa tidak fokus saja pada ajaran meluruskan hati dan kepribadian, dan tidak perlu mengurusi soal sesepele busana. 

Berhentilah melontarkan kritik-kritik bodoh semacam ini. Agama Islam tidaklah akan pernah kurang dalam membimbing soal-soal yang berkenaan tentang pelurusan hati dan kepribadian. Kini, agama tengah bicara tentang tubuh dan bagaimana menjaga kehormatan tubuh. Laksanakan saja, kalau belum mampu instrospeksilah... tidak usahlah melontarkan "kritik balik" terhadap agama yang tidak perlu dan tidak bermutu.


Siapa bilang pakai jilbab tidak menarik? Banyak cewek yang tak mau pakai jilbab karena takut tidak cantik atau tidak mau repot. Beberapa Alasan Wanita Tidak Mau berjilbab adalah sebagai berikut :


  1. Jilbab tidak menarik. Jawabnya seorang wanita muslimah harus sudi menerima kebenaran agama Islam, dan tidak mempermasalahkan senang atau tidak senang. Sebab rasa senangnya itu diukur dengan barometer hawa nafsu yang menguasai dirinya.
  2. Takut durhaka kepada orang tuanya yang melarangnya berpakaian jilbab. Jawabnya adalah Rasulullah SAW telah mengatakan agar tidak mematuhi seorang makhluk dalam durhaka kepada-Nya.
  3. Tidak bisa membeli pakaian yang banyak memerlukan kain. Jawabannya, orang yang mengatakan alasan seperti itu adalah karena (pertama) ia benar-benar sangat miskin sehingga tidak mampu membeli pakaian Islami. Atau (kedua) karena dia Cuma alasan saja, sebab ia lebih menyukai pakaian yang bugil sehingga tampak lekuk tubuhnya atau paha mulusnya bisa kelihatan orang.
  4. Karena merasa gerah dan panas. Jawabannya, wanita muslimah di Arab yang udaranya lebih panas saja mampu mengenakan pakaian Islami, mengapa di negara lainnya tidak? dan orang yang merasa gerah dan panas mengenakan pakaian Islami, mereka tidak menyadari tentang panasnya api neraka bagi orang yang membuka aurat. Syetan telah menggelincirkan, sehingga mereka terasa bebas dari panasnya dunia, tetapi mengantarkannya kepada panas api neraka.
  5. Takut tidak istiqamah. Mereka melihat contoh wanita muslimah yang kurang baik ‘Buat apa mengenakan jilbab sementara, Cuma pertama saja rajin, nanti juga dilepas’. Jawabannya adalah mereka mengambil sample (contoh) yang tidak cocok, bukan wanita yang ideal (yang istiqamah) menjalankannya. Ia mengatakan hanya untuk menyelamatkan dirinya. dan ia tidak mau mengenakan jilbab karena takut tidak istiqamah. Kalau saja semua orang berfikir demikian, tentunya mereka akan meninggalkan agama secara keseluruhan. Orang tidak akan shalat sama sekali karena takut tidak istiqamah, begitu pula puasa dan ibadah lainnya.
  6. Takut tidak laku kimpoi, jadi selama ia belum menikah, maka ia tidak mengenakan jilbab. Jawabannya, adalah ucapan itu sebenarnya tidaklah sebenarnya. Justru berakibat buruk pada dirinya sendiri. Sesungguhnya perkimpoian adalah nikmat dari Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki. Sebagian besar orang audah meyakini bahwa jodoh di tangan Tuhan. Betapa banyak gadis yang berjlbab dan menutup aurat dalam berbusana tetapi lebih cepat mendapatkan jodoh dibandingkan mereka yang berpakaian seksi. Karena wanita yang menyukai pakaian seksi akan dijadikan permainan bagi laki-laki iseng. Gadis-gadis berpakaian seksi dipandang sebagai gadis murahan. Sesungguhnya suami-suami yang menyukai wanita-wanita yang berpakaian ‘berani’, setengah bugil atau beneran, membuka aurat dan bermaksiat kepada Allah adalah bukan tipe suami yang baik, yang shalih dan berjiwa besar. Ia tidak punya rasa cemburu sama sekali terhadap larangan-larangan Allah dan tidak dapat memberikan pertolongan kepada isterinya kelak. Jadi jika wanita yang menyukai pakaian seksi atau melepaskan jilbab dengan tujuan mendapatkan jodoh yang baik, maka hal itu sungguh merupakan suatu kebodohan.
  7. Menampakkan anugerah tubuh yang indah atau ingin menghargai kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya. Jawabnya menghargai atau bersyukur itu dengan porsi yang benar. Bersyukur itu dengan mengahrgai perintah-Nya, yakni menjaga aurat, bukan dengan mengobralnya.
  8. Belum mendapat hidayah, jilbab itu ibadah. Jika Allah memberi hidayah, pasti kami akan mengenakannya. Jawabnya, Allah menciptakan segala sesuatu itu ada sebab-sebabnya. Misalnya orang yang sakit jika ingin sembuh hendaknya menempuh sebab-sebab bagi kesembuhannya. Adapun sebab yang harus ditempuh adalah berikhtiar dan berobat. Sebab orang kenyang karena makan, dsb. Maka demikian pula orang yang ingin mendapatkan hidayah itu harus menempuh sebab-sebab datangnya hidayah yakni dengan mematuhi perintah-Nya mengenakan jilbab.
  9. Belum waktunya. Sebagian ada yang berkata bahwa mengenakan jilbab itu harus tepat waktunya, misalnya karena masih anak-anak atau masih remaja. Ada yang akan mengenakannya jika sudah tua. Atau jika sudah menunaikan ibadah haji. Jawabnya adalah alasan mengulur-ulur waktu itu hanyalah sebagai sekedar dalil pembenaran saja. Itu sama artinya dengan orang yang menunda-nunda shalat, menunggu sampai ia berusia tua. Apakah kita tahu kapan kita akan meninggal dunia? Sedangkan mati itu tidak mengenal usia, tua maupun muda.
  10. Tidak mau dianggap sebagai orang yang mengikuti golongan tertentu. Jawabannya, bahwa anggapan ini karena dangkalnya pemahaman terhadap Islam atau karena dibuat-buat untuk menutupi diri agar tidak dituduh melanggar syari’at. Sesungguhnya di dalam Islam itu hanya ada dua golongan, yaitu golongan Hizbullah, golongan yang senantiasa menaati perintah Allah dan golongan Hizbus Syaithan, yakni golongan yang melanggar perintah Allah.

MANA YANG LEBIH BAIK :
Berjilbab tetapi Berakhlak Buruk atau Tidak Berjilbab tetapi Berakhlak Baik

”Lebih baik saya berjilbab hati dulu, daripada berjilbab tetapi hatinya tidak berjilbab.”

“Mendingan tidak usah berjilbab aja, daripada kaya si A berjilbab tapi masih sering berbuat maksiat.”

”Kalau belum siap berjilbab, mendingan ga usah pakai dulu!”

”Saya belum bisa memperbaiki perilaku saya, saya belum siap pakai jilbab jadi saya nanti aja pakai jilbabnya.”

”Saya sebenarnya pengen mamakai jilbab, tetapi masih belum siap.”

”Saya sebenarnya pengen mamakai jilbab, tetapi malu belum terbiasa.”


Mungkin kita sering mendengar perkataan-perkataan seperti di atas atau yang sejenisnya. Dimana pernyataan atau pandangan-pandangan seperti di atas menjadikan seorang akhwat tidak atau menunda untuk berjilbab.


Tidak dapat dipungkiri bahwa ada di antara para muslimah yang sudah memakai jilbab ada yang masih melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak mencerminkan moral atau akhlak islam. Hal inilah yang kemudian memunculkan banyak pandangan-pandangan di masyarakat yang berpendapat seperti di atas. Mereka bersikap sinis dan pesimis terhadap jilbab.

Salah satu pandangan yang banyak kita jumpai di masyarakat adalah adanya pandangan yang mengatakan bahwa ”Lebih baik kalau belum siap tidak usah pakai jilbab dulu, daripada berjilbab tetapi masih melakukan perbuatan-perbuatan maksiat atau berakhlak buruk”. Pandangan inilah yang juga sering mengecoh para muslimah sehingga menolak atau menunda melaksanakan kewajibannya dalam mengenakan jilbab. Kalau kita cermati pandangan semacam ini, kita bisa analisis sebagai berikut:

Ada dua pernyataan yang bisa kita tarik dari pandangan tersebut, yaitu :
1) Berjilbab tetapi berakhlak buruk.
Para muslimah yang berjilbab tetapi masih banyak juga melanggar syariat-syariat islam yang lainnya.
2) Tidak berjilbab tetapi berakhlak baik.
Para wanita yang tidak atau belum berjilbab tetapi tidak melanggar syariat-syariat islam yang lainnya, kecuali jilbab.


Pandangan yang seperti di atas menganggap bahwa pernyataan b lebih baik daripada pernyataan a. Apakah benar demikian? Atau Manakah di antara kedua hal tersebut yang lebih baik?
Jawabannya adalah tidak ada lebih baik dari dua hal tersebut. Tidak ada yang lebih dari dua alternatif pelanggaran, karena dari keduanya memang tidak ada yang baik. Ketika seorang muslimah telah baligh atau dewasa maka wajib baginya untuk berjilbab. Adapun masalah moral atau akhlak itu adalah perkara yang lain dimana ada hukum tersendiri yang mengaturnya. Mungkin yang harus kita imani terlebih dahulu adalah bahwasanya berjilbab adalah kewajiban yang mutlak bagi seorang muslimah dewasa. Banyak dalil-dalil tentang kewajibab berjilbab,


”Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ’Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
[QS. Al Ahzab (33): 59]


” Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.”
[QS.AnNur(24) : 31]

Sabda Rasulullah shallallahu ’alahi wassalam yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari ’Aisyah, katanya:
”Hai Asmaa! Sesungguhnya perempuan itu apabila telah dewasa/sampai umur, maka tidak patut menampakkan sesuatu dari dirinya melainkan ini dan ini.” Rasulullah Shallahllahu ’alaihiwassalam berkata sambil menunjukkan muka dan kedua telapak tangan hingga pergelangan tangannya sendiri.



Yang perlu diperhatikan juga adalah bagaimana menggunakan jilbab secara benar atau sesuai syar’i. Karena kalau kita lihat di masyarakat, banyak para muslimah yang mengunakan jilbab belum sesuai dengan kriteria-kriteria syariat. Banyak kita dengar istilah ”jilbab gaul”, ”jilbab modis”, dan sebagainya yang mungkin bisa saya katakan bahwa yang demikian itu tidak bisa disebut dengan jilbab. Oleh karena itu hendaknya setiap muslimah yang memakai jilbab, pelajari bagaimana kriteria-kriteria jilbab yang sesuai dengan syariat.

Jilbab yang sudah dikenakan dengan benar, insya Allah akan memberikan pengaruh besar untuk melakukan kebaikan, sedangkan menanggalkannya bisa membuka peluang besar bagi jalannya bermacam-macam maksiat. Karena pada dasarnya tidak berjilbab merupakan kemaksiatan. Walaupun jilbab itu tidak menutup kemungkinan negatif dan bukan menjamin kebaikan seluruhnya tetapi dampak positif yang dicapai oleh wanita berjilbab jauh lebih baik dibanding wanita yang tidak berjilbab. Sebab wanita yang berjilbab itu telah memperoleh sebagian dari kebaikan/keutamaan sedangkan kebaikan lainnya harus dipenuhi dengan kewajibab lainnya. Adapun kebaikan itu muncul dari pancaran ilmu, iman dan takwanya kepada Allah subhanahu wata’ala.


Lalu bagaimana dengan wanita yang belum berjilbab tetapi bukan karena menolak melainkan menunda-nunda dengan berbagai alasan seperti malu masih belum terbiasa, belum siap, atau nanti saja dan lain-lain?

Bagi saudari-saudariku yang masih menunda-nunda berjilbab hendaklah menyadari bahwasanya umur dan ajal bisa datang kapan saja. Kita tidak tahu kapan malaikat maut mencabut nyawa kita. Apa tahun depan? Bulan depan? Besok? Atau mungkin satu jam lagi. Ingatlah kematian saudariku yang datangnya tiba-tiba. Hendaknya kita segera bertaubat dan mulailah kenakan jilbab dengan benar. Allah tidak akan menerima taubat seseorang ketika tiba ajalnya, dan ajal itu tidak akan dapat diundurkan atau dimajukan.

Rasulullah Shallallahu ’alahi wassalam membenci orang-orang yang merasa panjang umur, dengan sabdanya,
”Sesungguhnya yang paling aku takuti atas umatku ialah hawa nafsu yang masih merasa panjang umurnya. Adapun hawa nafsu yang menyesatkan manusia dari kebenaran dan hawa nafsu yang masih merasa panjang umurnya (panjang angan-angan) semua itu akan lupa pada hari akhir.”

Wallahu’alam