Showing posts with label Tauhid. Show all posts
Showing posts with label Tauhid. Show all posts

Monday, May 15, 2017

Bulan Yang Dinanti-nanti Akan Segera Tiba, Bulan Yang Penuh Barokah, Pahala Berlipat Ganda



Hilal Awal Ramadhan

Sesungguhnya bulan Ramadhan yang mulia ini adalah bulan puasa dan shalat di malam harinya. Dan bulan ini adalah bulan istimewa yang khusus untuk Al-Qur’an. Sebab, inilah bulan dimana Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi kehidupan manusia baik didunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman,

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al-Baqarah 2 : 185)

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam, karena Allah Ta’ala memberikan discount dan bonus besar-besaran serta mengobral pahala. Allah Ta’ala melipatgandakan pahala kebaikan yang dilakukan setiap manusia hingga 10 sampai 700 kali lipat.

Hal ini seperti hadits Nabi yang artinya:

“Semua amalan anak adam akan dilipatgandakan (balasannya), satu kebaikan akan dibalas dengan 10 sampai 700 kali lipat.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Kecuali puasa, sesungguhnya itu untuk-Ku, dan Aku yang langsung membalasnya. Hamba-Ku telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku.” (HR. Muslim)
Sesiap Apakah Kita Menghadapi Ramadhan Tahun Ini?

Selama bulan Ramadhan kita diperintahkan untuk selalu menegakkan ketaatan kepada Allah Ta’ala, disamping melaksanakan kewajiban puasa. Banyak amal ibadah yang kita lakukan sebagai wujud menegakkan bulan Ramadhan, diantaranya yaitu shalat qiyamul lail dan membaca Al-Qur’an.
Sebagaimana yang dituliskan oleh Imam Al-Shan’any dalam kitabnya Subulus-Salam,
“Menegakkan bulan Ramadhan, yaitu menegakkan malam bulan Ramadhan dengan shalat atau membaca Al-Qur’an.” (Juz II, hlm: 173)

Ketika sudah masuk pada bulan Ramadhan seperti sekarang ini, semua orang setiap habis shalat ashar, shalat tarawih, dan bahkan shalat subuh, mereka akan berlomba-lomba untuk membaca Al-Qur’an dan sebanyak mungkin untuk mengkhatamkannya. Di mushola dan masjid, suara membaca Al-Qur’an silih berganti terdengar. Memang membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan berbeda ketika dibaca di sebelas bulan yang lain. Di bulan-bulan biasa ketika membaca satu huruf, kita akan diberi balasan pahala dengan sepuluh kebaikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dalam kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan. Saya tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)

Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Oleh sebab itu, perbanyaklah membaca Al-Qur’an itu, baik di luar shalat maupun di dalam shalat, seperti pada saat shalat tarawih. Semakin banyak jumlah ayat Al-Qur’an yang dibaca dalam shalat tarawih, maka semakin baik. Meskipun membaca surat selain Al-Fatihah di dalam shalat adalah suatu perbuatan yang bersifat anjuran atau sunnah, namun bagi setiap orang yang membaca Al-Qur’an dalam shalat tarawih, akan mendapatkan balasan pahala yang besar. Sebab satu amalan sunnah pada bulan Ramadhan, bernilai seperti satu amalan wajib di luar Ramadhan.
Perbanyak Tadarus (Membaca Alquran)

Membaca Al-Qur’an di luar shalat saja pahalanya besar, apalagi di dalam shalat, dan apalagi pada bulan Ramadhan, tentu Allah akan memberikan pahala yang berlipat ganda.
Apabila Rasulullah melaksanakan qiyam Ramadhan atau shalat tarawih, beliau memperpanjang bacaan Al-Qur’an, lebih panjang daripada shalat-shalat yang lain. Beliau pernah shalat malam pada bulan Ramadhan, di dalam shalat itu beliau membaca surat Al- Baqarah, An-Nisa dan Ali-‘lmran. Setiap kali beliau berjumpa ayat tentang ancaman, beliau berhenti sejenak untuk memohon perlindungan. (HR. Muslim, dari Hudzaifah bin Yaman)

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim ad-Dari untuk mengimami shalat pada bulan Ramadhan. Mereka membaca sebanyak 200 ayat dalam satu rakaat, sehingga para sahabat bersandar (berpegangan) pada tongkat mereka, karena lama berdiri. Shalat baru selesai menjelang fajar. Disebutkan dalam satu riwayat, bahwa ada pula yang memasang tali di antara tiang-tiang masjid, kemudian mereka berpegangan pada tali tersebut.

Pernah juga Umar bin Khaththab mengumpulkan tiga orang penghafal Al-Qur’an, untuk menjadi imam shalat tarawih. Yang paling cepat bacaannya, beliau perintahkan untuk membaca 30 ayat pada setiap rakaat shalat tarawih. Yang bacaannya sedang, diperintahkan membaca 25 ayat pada setiap rakaat. Sedangkan yang paling lambat bacaannya, diperintahkan membaca 20 ayat setiap rakaat.

Pada masa tabi’in (masa setelah sahabat Nabi), biasanya kalau mereka melaksanakan shalat tarawih, mereka menghabiskan bacaan surat Al-Baqarah seluruhnya, dalam 8 rakaat shalat. Jika ada imam yang membaca seluruh surat Al-Baqarah dalam 12 rakaat, mereka beranggapan bahwa imam telah memperpendek bacaan shalatnya.
Perbanyak Ibadah

Memang, sesungguhnya jumlah ayat Al-Qur’an yang dibaca dalam shalat tarawih tidaklah harus seperti yang digambarkan di atas. Sebab kemampuan setiap orang berbeda-beda. Akan tetapi, sangatlah bagus dilakukan jika mampu melakukan seperti itu. Gambaran di atas menunjukkan bahwa betapa agungnya membaca Al- Qur’an itu pada bulan Ramadhan, apakah ketika shalat, terutama pada qiyam Ramadhan (shalat tarawih), maupun di luar shalat.

Demikian pula dengan membaca Al-Qur’an di luar shalat pada bulan Ramadhan. Di antara ulama masa lalu, ada yang mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an setiap dua hari dalam bulan Ramadhan. Berarti selama sebulan Ramadhan, beliau mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an sebanyak 15 kali. Ada ulama, seperti An-Nakha’i yang mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an setiap tiga hari. Ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an setiap 3 hari, tapi pada 10 hari terakhir Ramadhan, ia khatam setiap hari.

Menurut sebuah riwayat, bahwa Imam Syafi’i mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan, di luar shalat, sebanyak 60 kali. Demikian juga yang dilakukan oleh Imam Abu Hanifah. Subhaanallah. Apabila telah datang bulan Ramadhan, maka Imam Malik menghentikan sementara kegiatan membaca hadits-hadits dan belajar kepada para ulama, lalu berkonsentrasi untuk membaca Al-Qur’an.
Berdoa Yang Khusu'

Demikianlah perhatian yang sangat besar diberikan oleh orang-orang shaleh, oleh para ulama terhadap Al-Qur’an pada bulan Ramadhan. Begitu pula kaum Muslimin pada umumnya, meskipun jumlah mereka mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan, masih jauh di bawah para ulama tersebut. Namun risalah singkat ini semoga bisa menjadi pemacu dan pemicu kita semua untuk semakin banyak membaca Al-Qur’an dibulan Ramadhan 1437 H ini. Wallahu a’lam… chat telegram Ikuti Kami di Facebook

Thursday, May 11, 2017

40 pelajaran dari nabi Muhammad (S.A.W) Part 2


21. Jgn curigaan pada temanmu.
22. Jgn pernah berdusta.
23. jgn membaui makanan saat memakannya.
24. bicara yg jelas agar org lain bisa memahami.
25. Hindari bepergian sendirian.


26. Jgn memutuskan sendiri namun berkonsultasilah dengan orang yg tahu.
27. Jangan bangga diri.
28. Jgn sedih dgn makananmu.
29. Jgn besar mulut.
30. Jgn mengusir pengemis.


31. Layani tamumu dengan baik dengan sepenuh hati.
32. Sabar ketika dalam kemiskinan.
33. Bantulah perkara kebaikan.
34. Pikirkanlah kesalahanmu dan bertaubatlah.
35.  Berbuat baiklah kepada orang yg berlaku jahat padamu.


36. Qana'ah
37. Jgn tidur terlalu sering- menyebabkan pikun.
38. Bertaubatlah minimal 100 kali sehari (Istighfaar).
39. Jgn makan dalam keadaan gelap.
40. jgn makan sepenuh-penuh mulut.

Share ke yg lain untuk mengingatkan mereka.
semoga Allah merahmati kita semua, Aamiin

cinta itu nyata

Kenapa kita tertidur ketika di masjid, namun bisa tetap terjaga saat menghadiri pesta?

Kenapa begitu susah untuk berkomunikasi dengan Allah namun begitu mudah bergosip?

Kenapa begitu mudah mengabaikan pesan ilahiah namun mudah memforward pesan yg tidak berfaidah?

Apakah anda akan mengirim ke teman2 atau mengabaikannya?

Allah berfirman:"jika engkau menolakku di hadapan teman2mu. Aku akan menolakmu di hari kebangkitan"
apabila tiap muslim mengucapkan astaghfirullah wa atubu ilaih 3 kali sekarang dan tekan tombol Share, dalam beberapa detik milyaran akan mengucapkannya dan anda tidak akan rugi maka Sebarkanlah...



40 pelajaran dari nabi Muhammad (S.A.W) Part 1


01. Jangan tidur antara fajr dan Ishraq, Asr dan Maghrib, Maghrib dan Isha.
02.hindarkan duduk dengan orang yg bau badan. Contoh (bawang)
03. Jangan tidur dekat orang yg bicara buruk sebelum tidur.
04. jangan makan dan minum dengan tangan kiri.
05. Jangan makan makanan yg dikeluarkan dr gigimu.


06.Jangan membunyikan sendi2 jari.
07. periksa sepatumu sebelum memakainya.
08. Jangan memandang ke langit ketika shalat.
09. Jangan meludah dalam toilet.
10. jangan bersihkan gigi dengan arang.


11. Duduk/jongkok baru kenakan celana.
12.  jangan patahkan benda keras dengan gigimu.
13. Jangan meniup makananmu ketika panas tapi kamu boleh mengipasinya.
14. Jngan melihat kesalahan orang lain.
15. jangan berbicara antara iqamah dan adhan.


16. Jangan bicara dalam toilet.
17. jangan membicarakan keburukan temanmu.
18. Jangan membuat temanmu marah
19. Jgn sering melihat ke belakang ketika berjalan.
20. Jgn hentakkan kakimu saat berjalan.


Share ke yg lain untuk mengingatkan mereka.
semoga Allah merahmati kita semua, Aamiin

cinta itu nyata

Kenapa kita tertidur ketika di masjid, namun bisa tetap terjaga saat menghadiri pesta?

Kenapa begitu susah untuk berkomunikasi dengan Allah namun begitu mudah bergosip?

Kenapa begitu mudah mengabaikan pesan ilahiah namun mudah memforward pesan yg tidak berfaidah?

Apakah anda akan mengirim ke teman2 atau mengabaikannya?

Allah berfirman:"jika engkau menolakku di hadapan teman2mu. Aku akan menolakmu di hari kebangkitan"
apabila tiap muslim mengucapkan astaghfirullah wa atubu ilaih 3 kali sekarang dan tekan tombol Share, dalam beberapa detik milyaran akan mengucapkannya dan anda tidak akan rugi maka Sebarkanlah...


Wednesday, May 10, 2017

ajaran pokok agama islam mengandung 3 aspek


Sejauh Mana Pemahaman Kita?

Tak terasa, sudah sejak lama sekali (mungkin sudah 20-an tahun atau bahkan lebih) kita menjadi sebagai seorang muslim. Nikmat yang besar ini patutlah kita syukuri, karena banyak diantara manusia yang tidak memperoleh nikmat ini. Dan nikmat inilah yang sangat menentukan bahagia atau sengsaranya kita di hari akhir nanti.

Pada kesempatan ini, tidaklah kami ingin menanyakan ‘Sejak kapan kita masuk islam?’ atau ‘Bagaimana ceritanya kita masuk islam?’ karena jawaban pertanyaan ini bukanlah suatu yang paling mendasar dan paling penting. Namun pertanyaan paling penting yang harus kita renungkan dan kita jawab pada setiap diri kita adalah: ‘Sudah sejauh manakah kita telah memahami dan mengamalkan ajaran kita ini?’ Pertanyaan inilah yang paling penting yang harus direnungkan dan dijawab, karena jawaban pertanyaan inilah yang nantinya sangat menentukan kualitas keislaman dan ketakwaan seseorang.

Allah berfirman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati di dalam kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al Ashr: 1-3)

Allah berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” (Al Hujurot: 13)

Pokok Ajaran Islam

Sebagaimana yang telah diketahui bahwa ajaran Islam ini adalah ajaran yang paling sempurna, karena memang semuanya ada dalam Islam, mulai dari urusan buang air besar sampai urusan negara, Islam telah memberikan petunjuk di dalamnya. Allah berfirman, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam menjadi agama bagimu.” (Al-Maidah: 3)

Salman Al-Farisi berkata,“Telah berkata kepada kami orang-orang musyrikin, ‘Sesungguhnya Nabi kamu telah mengajarkan kepada kamu segala sesuatu sampai buang air besar!’ Jawab Salman, ‘benar!” (Hadits Shohih riwayat Muslim). Semua ini menunjukkan sempurnanya agama Islam dan luasnya petunjuk yang tercakup di dalamnya, yang tidaklah seseorang itu butuh kepada petunjuk selainnya, baik itu teori demokrasi, filsafat atau lainnya; ataupun ucapan Plato, Aristoteles atau siapa pun juga.

Meskipun begitu luasnya petunjuk Islam, pada dasarnya pokok ajarannya hanyalah kembali pada tiga hal yaitu tauhid, taat dan baro’ah/berlepas diri. Inilah inti ajaran para Nabi dan Rosul yang diutus oleh Allah kepada ummat manusia. Maka barangsiapa yang tidak melaksanakan ketiga hal ini pada hakikatnya dia bukanlah pengikut dakwah para Nabi. Keadaan orang semacam ini tidak ubahnya seperti orang yang digambarkan oleh seorang penyair.
Semua orang mengaku punya hubungan cinta dengan Laila, namun laila tidak mengakui perkataan mereka

1. Berserah Diri Kepada Allah Dengan Merealisasikan Tauhid

Yaitu kerendahan diri dan tunduk kepada Allah dengan tauhid, yakni mengesakan Allah dalam setiap peribadahan kita. Tidak boleh menujukan satu saja dari jenis ibadah kita kepada selain-Nya. Karena memang hanya Dia yang berhak untuk diibadahi. Dia lah yang telah menciptakan kita, memberi rizki kita dan mengatur alam semesta ini, pantaskah kita tujukan ibadah kita kepada selain-Nya, yang tidak berkuasa dan berperan sedikitpun pada diri kita?

Semua yang disembah selain Allah tidak mampu memberikan pertolongan bahkan terhadap diri mereka sendiri sekali pun. Allah berfirman, “Apakah mereka mempersekutukan dengan berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedang berhala-berhala itu sendiri yang diciptakan. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada para penyembahnya, bahkan kepada diri meraka sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.” (Al -A’rof: 191-192)

Semua yang disembah selain Allah tidak memiliki sedikitpun kekuasaan di alam semesta ini. Allah berfirman, “Dan orang-orang yang kamu seru selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu, dan pada hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (Fathir: 13-14)

2. Tunduk dan Patuh Kepada Allah Dengan Sepenuh Ketaatan

Pokok Islam yang kedua adalah adanya ketundukan dan kepatuhan yang mutlak kepada Allah. Dan inilah sebenarnya yang merupakan bukti kebenaran pengakuan imannya. Penyerahan dan perendahan semata tidak cukup apabila tidak disertai ketundukan terhadap perintah-perintah Allah dan Rosul-Nya dan menjauhi apa-apa yang dilarang, semata-mata hanya karena taat kepada Allah dan hanya mengharap wajah-Nya semata, berharap dengan balasan yang ada di sisi-Nya serta takut akan adzab-Nya.

Kita tidak dibiarkan mengatakan sudah beriman lantas tidak ada ujian yang membuktikan kebenaran pengakuan tersebut. Allah berfirman, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” ( Al-Ankabut: 2-3)

Orang yang beriman tidak boleh memiliki pilihan lain apabila Allah dan Rosul-Nya telah menetapkan keputusan. Allah berfirman, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang beriman dan tidak pula perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rosul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (Al Ahzab: 36)

Orang yang beriman tidak membantah ketetapan Allah dan Rosul-Nya akan tetapi mereka mentaatinya lahir maupun batin. Allah berfirman, “Sesungguhnya jawaban orang-orang beriman, bila mereka diseru kepada Allah dan Rosul-Nya agar rosul menghukum di antara mereka ialah ucapan. ‘Kami mendengar, dan kami patuh’. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An Nur: 51)

3. Memusuhi dan Membenci Syirik dan Pelakunya

Seorang muslim yang tunduk dan patuh terhadap perintah dan larangan Allah, maka konsekuensi dari benarnya keimanannya maka ia juga harus berlepas diri dan membenci perbuatan syirik dan pelakunya. Karena ia belum dikatakan beriman dengan sebenar-benarnya sebelum ia mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah. Padahal syirik adalah sesuatu yang paling dibenci oleh Allah. Karena syirik adalah dosa yang paling besar, kedzaliman yang paling dzalim dan sikap kurang ajar yang paling bejat terhadap Allah, padahal Allahlah Robb yang telah menciptakan, memelihara dan mencurahkan kasih sayang-Nya kepada kita semua.

Allah telah memberikan teladan kepada bagi kita yakni pada diri Nabiyulloh Ibrohim ‘alaihis salam agar berlepas diri dan memusuhi para pelaku syirik dan kesyirikan. Allah berfirman, “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari kamu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.’" (Al-Mumtahanah: 4)

Jadi ajaran Nabi Ibrohim ‘alaihis salam bukan mengajak kepada persatuan agama-agama sebagaimana yang didakwakan oleh tokoh-tokoh Islam Liberal, akan tetapi dakwah beliau ialah memerangi syirik dan para pemujanya. Inilah millah Ibrohim yang lurus! Demikian pula Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengobarkan peperangan terhadap segala bentuk kesyirikan dan memusuhi para pemujanya. Inilah tiga pokok ajaran Islam yang harus kita ketahui dan pahami bersama untuk dapat menjawab pertanyaan di atas dengan jawaban yang yakin dan pasti. Dan di atas ketiga pokok inilah aqidah dan syari’ah ini dibangun. Maka kita mohon kepada Allah semoga Allah memberikan taufiq kepada kita untuk dapat memahami agama ini, serta diteguhkan di atas meniti din ini. Wallohu a’lam… chat telegram Ikuti Kami di Facebook

Tuesday, November 29, 2016

Perbanyaklah Berdo'a Di Waktu Sujud



Perbanyaklah Berdo'a Di Waktu Sujud, karena itulah saat terdekatmu dengan allah 'azza wa jalla, namun janganlah berdo'a dengan do'a dari al qur`an, berdo'alah dengan do'a dari al hadits shahih.

Dari Shahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu,
"Keadaan seorang hamba yang paling dekat dari Rabbnya adalah ketika dia sujud, maka perbanyaklah do'a."
(Shahih, Muslim no. 482)

Dari Khalifah 'Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu,
"Rasulullah melarangku dari membaca Al Qur`an ketika saya sedang rukuk atau sujud."
(Shahih, Muslim no. 480)

•═════◎◎۩۩◎◎═════•

Do'a apa saja yang biasa Rasulullah panjatkan dalam sujud panjang beliau ?

Berikut adalah beberapa do'a dari Al Hadits Shahih yang dapat kita panjatkan kepada Allah As Sami'ul Mujiib (Ad Du'a) di dalam sujud sujud panjang kita:


1. Dari Shahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu,

Bahwa Rasulullah dalam sujudnya mengucapkan do'a,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ

ALLAHUMMAGHFIRLII DZANBI KULLAHU DIQQAHU WAJULLAHU WA AWWALAHU WA AKHIRAHU WA 'ALANIYATAHU WA SIRRAHU

(Yaa Allah, ampunilah semua dosa dosaku, yang kecil maupun yang besar, yang awal maupun yang akhir, dan yang terang terangan maupun yang sembunyi sembunyi)
(Shahih, Muslim no. 483)


2. Bahwa 'Aisyah radhiallahu 'anha mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah berdo'a dalam shalat:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

ALLAHUMMA INNII A'UUDZU BIKA MINAL MA`TSAMI WAL MAGHRAM

(Yaa Allah aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan terlilit hutang)
(Shahih, Bukhari no. 2397)


3. Dari 'Abdullah bin Mas'ud, dari Nabi bahwasanya beliau pernah berdo'a:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

ALLAHUMMA INNII AS ALUKAL HUDA WATTUQA WAL 'AFAAFA WALGHINA

"Yaa Allah yaa Tuhanku, sesungguhnya aku memohon kepadaMu petunjuk, ketaqwaan, terhindar dari perbuatan yang tidak baik, dan kecukupan (tidak meminta minta)."
(Shahih, Muslim no. 2721)


4. Dari Khalifah 'Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu, dia berkata;

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda kepada saya:

"Hai 'Ali, ucapkanlah do'a,

اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي وَاذْكُرْ بِالْهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ وَالسَّدَادِ سَدَادَ السَّهْمِ

ALLAAHUMMAH DINII WASADDIDNII WADZKUR BIL HUDAA HIDAAYATAKATH THARIIQA WASSADAADI SADAADAS SAHMI

"Yaa Allah, berikanlah petunjuk kepadaku. Berilah aku jalan yang lurus. Jadikan petunjukMu sebagai jalanku dan kelurusan hidupku selurus anak panah"
(Shahih, Muslim no. 2725)


5. Abu Musa Al Asy'ari berkhutbah di hadapan kami,

"Wahai manusia takutlah kalian akan perbuatan syirik, karena dia lebih halus dari langkah semut."
Kemudian berdirilah 'Abdullah bin Hazn dan Qais bin Mudharib dan berkata:
"Demi Allah, kamu jelaskan semua apa yang kamu telah katakan atau kami benar benar akan mendatangi 'Umar baik diizinkah atau tidak."
Abu Musa berkata; "Bahkan, aku akan jelaskan apa yang telah aku katakan."

Pada suatu hari Rasulullah berkhutbah di hadapan kami, beliau bersabda:

"Wahai sekalian manusia, takutlah kalian terhadap syirik karena dia lebih halus dari langkah semut."

Kemudian seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana kami harus menghindarinya, sementara dia lebih halus dari langkah semut?"

Maka beliau menjawab:
Berdo'alah dengan membaca,

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ

ALLAHUMMA INNAA NA'UUDZU BIKA MIN AN NUSYRIKA BIKA SYAIAN NA'LAMUHU WA NASTAGHFIRUKA LIMAA LAA NA'LAMU

Yaa Allah, sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari menyekutukanMu dengan sesuatu yang kami mengetahuinya dan kami meminta ampun kepadaMu terhadap apa yang kami tidak ketahui
(Hasan Shahih, Imam Ahmad no. 18781 (19606) dan dinilai hasan shahih oleh Syaikhul Muhadits Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah (dalam Shahih Targhib Wat Tarhib no. 36)


6. 'Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash berkata; bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah bersabda:

"Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan memalingkan hati manusia menurut kehendakNya."

Setelah itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdo'a;

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

ALLAHUMMA MUSHARRAFAL QULUUBI SHARRAF QULUUBANAA 'ALA THAA'ATIKA

'Ya Allah, Dzat yang Memalingkan Hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepadaMu!'
(Shahih, Muslim no. 4798)


7. Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma berkata,

"Jika susah, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memanjatkan doa:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَلِيمُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

LAA ILAAHA ILLALLAHUL 'ALIIMUL HALIIM LAA ILAAHA ILLALLAH RABBUL 'ARSYIL 'AZHIIMI LAA ILAAHA ILLALLAH RABBUS SAMAWAATI WA RABBUL ARDHI RABBUL 'ARSYIL KARIIMI

Tiada sesembahan yang hak selain Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, tiada sesembahan yang hak selain Allah, Tuhan pemelihara 'Arsy Yang Maha Agung, tiada sesembahan yang hak selain Allah Yang Memelihara Langit dan Bumi, Tuhan Pemelihara 'Arsy yang Mulia
(Shahih, Bukhari no. 6876)


8. Dari Sa'ad bin Malik radhiallahu 'anhu, Rasulullah bersabda:

"Barangsiapa yang mengatakan;

رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا

RADHIITU BILLAAHI RABBAN WA BIL ISLAAMI DIINAN WA BI MUHAMMADIN RASUULAN

"Aku Ridha Allah Sebagai Tuhanku, Islam Sebagai Agamaku Dan Muhammad Sebagai Rasul."

, maka wajib baginya untuk masuk syurga."
(Shahih, Imam Abu Daud no. 1306 dan dishahihkan oleh Syaikhul Muhadits Al Albani rahimahullah)


9. Dari Ummul Mu`minin 'Aisyah binti Abu Bakar Ash Shiddiq radhiallahu 'anha,dia berkata;

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam ruku' dan sujudnya memperbanyak membaca;

سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ

'
SUBBUUHUN QUDDUUSUN, RABBUL MALAAIKATI WARRUH
(Maha Suci Tuhan para malaikat dan malaikat Jibril)'."
(Shahih, Imam An Nasa'i no. 1038, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah)


10. Dari Khalifah 'Umar bin Al Khathtab radhiallahu 'anhu berkata:

اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي شَهَادَةً فِي سَبِيلِكَ وَاجْعَلْ مَوْتِي فِي بَلَدِ رَسُولِكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Ya Allah berilah aku mati syahid dijalanMu, dan jadikanlah kematianku di negeri RasulMu, shallallahu 'alaihi wasallam"
(Shahih, Al Bukhari no. 1757)

Demikianlah beberapa Do'a yang bersumber dalam Al Hadits Shahih yang dapat kita panjatkan di dalam sujud sujud panjang kita. Janganlah merasa lelah dalam berdo'a kepada Allah, karena Allah sangat mencintai hambaNya yang berdo'a dan menangis memohon kepadaNya.



•═════◎◎۩۩◎◎═════•
Sungguh, Allah mendengar setiap do'a do'a kita, Allah tidak pernah sekali kali menyia-nyiakan do'a hambaNya. Lantunan do'a kita adalah Senjata Terkuat kita sebagai Muslim. Tanpa berdo'a kepada Allah, sungguh kita lemah dan sangat aniaya.
Sungguh benar benar kita harus memperbanyak do'a kepada Allah karena kita membutuhkan Allah atas Segala Nikmat yang tidak terhitung dariNya, atas Ketetapan Hidayah Islam di dalam Hati kita, Ketetapan untuk Bertauhid (Kufur kepada Thaghut dan Beriman kepada Allah) dan Istiqamah melaksanakan Sunnah Mulia Rasulullah hingga kematian kita yang dimana setiap muslim yang beriman pasti dan akan selalu merindukan Kematian Terindah dan Terbaik yaitu Kematian Syahid yang tergolong Kematian Husnul Khatimah.

In syaa Allah

Jazaakumullahu Khairan

Semoga bermanfaat



sumber dari: Islam Kaaffah 'Ala Minhajin Nubuwwah


Saturday, November 12, 2016

Tauhid Nafyi dan Itsbat



Kalimat yang Agung ini لا اله الا لله memiliki dua rukun yaitu an-Nafyi (penafian / penolakan / pengingkaran) dan itsbat (penetapan / penegasan). Yang di maksud an-Nafyi ( لا اله ) yaitu menafikan semua yang di ibadahi selain Allah atau pengosongan. Dan aI-Itsbat ( الا لله ) yaitu menetapkan seluruh macam ibadah hanya kepada Allah saja tidak ada sekutu baginya. Penafian murni saja bukanlah Tauhid, penetapan murni saja itu pun bukanlah Tauhid, namun Tauhid itu harus menggabungkan antara keduanya. Makna لا اله الا لله yaitu tidak ada yang berhaq di ibadahi kecuali Allah, atau tidak ada yang berhak terhadap segala peribadatan ini tanpa disertai lainnya kecuali hanya Allah.

Kalimat tauhid ini menafikan 4 perkara dan menetapkan 4 perkara. 4 perkara yang dinafikan adalah: • Alihah (Rabb-Rabb)ialah apa saja yang engkau jadikan tujuan dengan melakukan sesuatu untuk mendapatkan manfaat atau menlak mudharat darinya • Thawaghit (Thaghut)Ialah apa dan siapa saja yang disembah dan ia rela dengan sesembahan itu, atau sesuatu yang dicalonkan sebagai sesembahan • Andad (Tandingan bagi Allah)ialah setiap sesuatu yang menjauhkan dari Dien Islam, baik itu keluarga, tempat tinggal, kerabat, maupun harta. semua itu bisa disebut andad bila menyebabkan jauh dari Dien Islam, hal ini berdasarkan firman Allah azza wa Jalla: "Dan diantara manusia ada rang yang menyembah Rabb selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai sebagaimana mereka mencintai Allah (QS. al-Baqarah: 165) • Arbabialah seseorang yang menetapkan hukum, memberi fatwa yang menyimpang dari al-Haq, lalu dipatuhi oleh seseorang, sebagaimana firman Allah azza wa Jalla: "Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi) dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai Rabb selain Allah" (QS. al-Baqarah: 165) Sedangkan 4 perkara yang ditetapkan oleh kalimat ini adalah: • al-Qashdual-Qashdu adalah tujuan, hendaklah seseorang tidak memiliki tujuan dan maksud (niat) kecuali kepada Allah azza wa Jalla. • at-Ta'dhim wal Mahabbah (Pengagungan dan kecintaan)at-Ta'dhim wal Mahabbah adalah (Pengagungan dan kecintaan), sebagaimana firman Allah azza wa Jalla: " Adapun orang-orang yang beriman, sangat besar cintanya kepada Allah"
(al-Baqarah: 165) • al-Khauf war Raja'al-Khauf war Raja' adalah rasa kekhawatiran dan pengharapan, sebagaimana firman Allah azza wa Jalla : "Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS. Yunus: 107) at-Taqwaat-Taqwa (bertakwa) adalah berlindung / takut dari murka dan siksa Allah dengan cara meninggalkan Syirik dan seluruh kemaksiatan, memurnikan ibadah hanya kepada Allah dan mentaati perintah-Nya sesuai dengan syariat-Nya Ibnu Mas'ud Radiyallahu'Anhu berkata: "Hendaklah engkau melaksanakan ketaatan kepada Allah di atas cahaya Allah karena mengharap pahala dari Allah, dan menginggalkan kemaksiatan berdasarkan cahaya Allah karena takut akan siksa Allah."


الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

(QS. al-Maidah: 3)



sumber Mimbar Telegram

Keutamaan Surat Al-Mulk


Tahukah anda?
Diceritakan ada seorang wanita solehah yang meninggal, maka tiap kali penduduk desa ziarah kubur, mereka mencium harumnya mawar dari dalam kubur, kemudian suaminya menjelaskan, bahwa istrinya itu semasa hidup selalu membaca surah al-mulk, setiap mau tidur...
Sesungguhnya surat al-mulk itu menyelamatkan dari siksa kubur.


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ إِنَّ سُورَةً مِنَ الْقُرْآنِ ثَلاَثُونَ آيَةً شَفَعَتْ لِرَجُلٍ حَتَّى غُفِرَ لَهُ وَهِىَ سُورَةُ تَبَارَكَ الَّذِى بِيَدِهِ الْمُلْكُ.

“Ada suatu surat dari al Qur’an yang terdiri dari tiga puluh ayat dan dapat memberi syafa’at bagi yang membacanya, sampai dia diampuni, yaitu : “Tabaarakalladzii biyadihil mulku… (surat Al Mulk)
[HR. Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad]


قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « هِىَ الْمَانِعَةُ هِىَ الْمُنْجِيَةُ تُنْجِيهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ. وَفِى الْبَابِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ.

“Dia adalah penghalang, dia adalah penyelamat yang menyelamatkannya dari siksa kubur.”
[HR. Tirmidzi]


عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ لاَ يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ (الم تَنْزِيلُ) وَ (تَبَارَكَ الَّذِى بِيَدِهِ الْمُلْكُ)

"Jabir berkata, “Nabi SAW tidak tidur sampai beliau membaca Alif laam miim tanzil (surat As Sajdah) dan Tabarokalladzi bi yadihil mulk (surat Al Mulk).”
[HR. Tirmidzi]


عن عبد الله بن مسعود قال : من قرأ { تبارك الذي بيده الملك } كل ليلة منعه الله بها من عذاب القبر وكنا في عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم نسميها المانعة وإنها في كتاب الله سورة من قرأ بها في كل ليلة فقد أكثر وأطاب.

"Abdullah bin Mas’ud RA berkata, “Barangsiapa membaca “Tabarokalladzi bi yadihil mulk” (surat Al Mulk) setiap malam, maka Allah akan menghalanginya dari siksa kubur. Kami di masa Rasulullah SAW menamakan surat tersebut “al Mani’ah” (penghalang dari siksa kubur). Dia adalah salah satu surat di dalam Kitabullah (al Quran). Barangsiapa membacanya setiap malam, maka ia telah memperbanyak dan telah berbuat kebaikan.”
[HR. An Nasai & Al Hakim]