Showing posts with label mualaf. Show all posts
Showing posts with label mualaf. Show all posts

Saturday, May 13, 2017

Jangan mempermainkan kata "Insya Allah"




Ini sebuah kisah dari ustad Felix Siauw yang perlu diperhatikan. Oh ya, Felix Siauw adalah orang Indonesia keturunan Tiong Hoa yang beragama muslim. Beliau adalah muallaf dan juga adalah pendakwah dan penulis buku Islam. Saya kagum kepada beliau dan pantas saya nobatkan sebagai panutan yang terbaik dalam menegakkan tauhid. Muallaf paling keren dan cerdas!

Mari kita dengarkan curahan hati ustad Felix Siauw.....

Saya mau cerita, boleh nggak?
Kalo nggak boleh saya cerita juga sih hehe.. Begini ceritanya, kemarin saya landing di CGK airport JKT, udah tau kan. Nungguin bagasi di CGK itu sekarang lamanyaa..! Padahal udah janji mau bawa @ummualila dan anak-anak ke dunia permainan. Padahal jadwal landing juga udah telat 3 jam, karena delay flight dari Malang. Harusnya sampe jam 12.30 ini sudah jam 15.00, wah...

Akhirnya punya ide, pergi ke Lost & Found, bilang sama petugasnya "Mas, saya mau nitip bagasi yah, nanti jam 9 malem saya ambil". Masnya menyambut baik, lalu anterin saya ke petugas pencatat, mbak berkerudung yang terlihat sibuk dan saya sampaikan lagi maksud saya.
Mbaknya nanya sambil nulis "Nama.. hape.. jam berapa datang..?"
"felix siauw mbak, hape 0813XXXXXXXX, jam 9 insyaAllah kesini lagi"

Mendengar saya bilang 'insyaAllah' mbaknya agak ketus bilang "jangan insyaAllah dong! yang pasti" dengan tatapan tajam ke saya. Agak dikit kesel, tapi masih mikir (ah sudahlah, mungkin dia lelah :D)
"Lho kok saya nggak boleh insyaAllah sih? saya kan Muslim mbak?"
"Dunia ini mana ada yang pasti, seorang Muslim bilang 'InsyaAllah' itu artinya melibatkan Allah dalam semua hal". Mbaknya nunduk aja. Pingin saya terusin nanti malah jadi ceramah hehe.. Padahal istri-anak udah nunggu. Ya sudah saya ucapin makasih dan meluncur.

Ada 2 poin yang pingin saya sampaikan pada tweeps.
Poin pertama, inilah masyarakat kita, kalo ngomong 'InsyaAllah' nggak serius, nggak paham.
"Bro, dateng ke pengajian ya besok"
"InsyaAllah ya bro!" (padahal gak niat dateng) jadi orang pahamnya 'InsyaAllah' itu nggak pasti
Jadi berkuranglah makna 'insyaAllah', yang harusnya maknanya "jika Allah menghendaki"
insyaAllah yang artinya "pasti". Hanya saja etika dalam Islam, kita nggak boleh mendahului Allah, kita akui ketergantungan kita pada Allah maka kita ucap 'InsyaAllah'. Ini poin pertama, 'insyaAllah' yang disalahgunakan, maka jadi nggak bermakna kalo nggak mau ya bilang aja, jangan pake 'insyaAllah'.

Poin kedua, banyak yang sudah berpikir sekuler, Allah hanya boleh disebut di Masjid, di Taklim, sementara di kantor jangan bawa Allah. Jadi kesannya bilang 'insyaAllah', atau kerja diawali doa, itu nggak profesional padahal seharusnya begitulah seorang Muslim. Perkara banyak yang menyalahgunakan 'InsyaAllah', ya itu tugas kita memperbaikinya bukan malah tidak menggunakan kata 'InsyaAllah'. Hobinya liberal kan gitu, standar ganda. Di Masjid boleh pake hukum Allah, di negara nggak boleh. Jangan ikut-ikutan ya.. 
"Jangan bawa agama dalam negara"
"Jangan bawa-bawa agama dalam resensi film" wajar aja, yang ngomong begini, baginya agama sampingan.

Nah, nah, jadi banggalah jadi Muslim, karena Allah Yang Maha Tinggi yang menjadikan Islam tinggi semoga kita cukup dengan Islam bangga jadi Muslim, karena itu yang kasih kita kesempatan dapet ridha Allah bukan bangga sama yang lain, apalagi ikut-ikutan liberal. Islam itu agama untuk semua orang, semua urusan, dimanapun urusannya jangan pilah-pilih, jangan sekuler-liberal, Islam ya Islam aja yang lain boleh dibaca dan dipelajari tapi yang harus diyakini, dibaca, dipelajari, dipahami dan diamalkan, hanya Islam aja.

Alhamdulillah, saya dilahirkan bukan Muslim lalu mengenal Islam karenanya bisa tahu Islam itu sempurna, karena sudah membandingkanDoain ya, semoga saya istiqamah, dan kita semua istiqamah doain juga yang masih belum bangga sama Islam, jadi bangga sama Islam.

‘Kalah’ Melawan Alquran, Dr Jeffrey Lang Menerima Islam


Sejak kecil Dr Jeffrey Lang dikenal ingin tahu. Ia kerap mempertanyakan logika sesuatu dan mengkaji apa pun berdasarkan perspektif rasional. “Ayah, surga itu ada?” tanya Jeffrey kecil suatu kali kepada ayahnya tentang keberadaan surga, saat keduanya berjalan bersama anjing peliharaan mereka di pantai. Bukan suatu kejutan jika kelak Jeffrey Lang menjadi profesor matematika, sebuah wilayah dimana tak ada tempat selain logika.

Saat menjadi siswa tahun terakhir di Notre Dam Boys High, sebuah SMA Katholik, Jeffrey Lang memiliki keberatan rasional terhadap keyakinan akan keberadaan Tuhan. Diskusi dengan pendeta sekolah, orangtuanya, dan rekan sekelasnya tak juga bisa memuaskannya  tentang keberadaan Tuhan. “Tuhan akan membuatmu tertunduk, Jeffrey!” kata ayahnya ketika ia membantah keberadaan Tuhan di usia 18 tahun.

Ia akhirnya memutuskan menjadi atheis pada usia 18 tahun, yang berlangsung selama 10 tahun ke depan selama menjalani kuliah S1, S2, dan S3, hingga akhirnya memeluk Islam.

Adalah beberapa saat sebelum atau sesudah memutuskan menjadi atheis, Jeffrey Lang mengalami sebuah mimpi.


Berikut penuturan Jeffrey Lang tentang mimpinya itu:


Kami berada dalam sebuah ruangan tanpa perabotan. Tak ada apa pun di tembok ruangan itu yang berwarna putih agak abu-abu. Satu-satunya ‘hiasan’ adalah karpet berpola dominan merah-putih yang menutupi lantai. Ada sebuah jendela kecil, seperti jendela ruang bawah tanah, yang terletak di atas dan menghadap ke kami. Cahaya terang mengisi ruangan melalui jendela itu.

Kami membentuk deretan. Saya berada di deret ketiga. Semuanya pria, tak ada wanita, dan kami semua duduk di lantai di atas tumit kami, menghadap arah jendela.
Terasa asing. Saya tak mengenal seorang pun. Mungkin, saya berada di Negara lain. Kami menunduk serentak, muka kami menghadap lantai. Semuanya tenang dan hening, bagaikan semua suara dimatikan. Kami serentak kami kembali duduk di atas tumit kami. 

Saat saya melihat ke depan, saya sadar kami dipimpin oleh seseorang di depan yang berada di sisi kiri saya, di tengah kami, di bawah jendela. Ia berdiri sendiri. Saya hanya bisa melihat singkat punggungnya. Ia memakai jubah putih panjang. Ia mengenakan selendang putih di kepalanya, dengan desain merah. Saat itulah saya terbangun.

Sepanjang sepuluh tahun menjadi atheis, Jeffrey Lang beberapa kali mengalami mimpi yang sama. Bagaimanapun, ia tak terganggu dengan mimpi itu. Ia hanya merasa nyaman saat terbangun. Sebuah perasaan nyaman yang aneh. Ia tak tahu apa itu. Tak ada logika di balik itu, dan karenanya ia tak peduli kendati mimpi itu berulang.

Sepuluh tahun kemudian, saat pertama kali memberi kuliah di University of San Fransisco, dia bertemu murid Muslim yang mengikuti kelasnya. Tak hanya dengan sang murid, Jeffrey pun tak lama kemudian menjalin persahabatan dengan keluarga sang murid. Agama bukan menjadi topik bahasan saat Jeffrey menghabiskan waktu dengan keluarga sang murid. Hingga setelah beberapa waktu salah satu anggota keluarga sang murid memberikan Alquran kepada Jeffrey.

Kendati tak sedang berniat mengetahui Islam, Jeffrey mulai membuka-buka Alquran dan membacanya. Saat itu kepalanya dipenuhi berbagai prasangka.

“Anda tak bisa hanya membaca Alquran, tidak bisa jika Anda tidak menganggapnya serius. Anda harus, pertama, memang benar-benar telah menyerah kepada Alquran, atau kedua, ‘menantangnya’, ungkap Jeffrey.

Ia kemudian mendapati dirinya berada di tengah-tengah pergulatan yang sangat menarik. “Ia (Alquran) ‘menyerang’ Anda, secara langsung, personal. Ia (Alquran) mendebat, mengkritik, membuat (Anda) malu, dan menantang. Sejak awal ia (Alquran) menorehkan garis perang, dan saya berada di wilayah yang berseberangan.”

“Saya menderita kekalahan parah (dalam pergulatan). Dari situ menjadi jelas bahwa Sang Penulis (Alquran) mengetahui saya lebih baik ketimbang diri saya sendiri,” kata Jeffrey. Ia mengatakan seakan Sang Penulis membaca pikirannya. Setiap malam ia menyiapkan sejumlah pertanyaan dan keberatan, namun selalu mendapati jawabannya pada bacaan berikutnya, seiring ia membaca halaman demi halaman Alquran secara berurutan.

“Alquran selalu jauh di depan pemikiran saya. Ia menghapus aral yang telah saya bangun bertahun-tahun lalu dan menjawab pertanyaan saya.” Jeffrey mencoba melawan dengan keras dengan keberatan dan pertanyaan, namun semakin jelas ia kalah dalam pergulatan. “Saya dituntun ke sudut di mana tak ada lain selain satu pilihan.”

Saat itu awal 1980-an dan tak banyak Muslim di kampusnya, University of San Fransisco. Jeffrey mendapati sebuah ruangan kecil di basement sebuah gereja di mana sejumlah mahasiswa Muslim melakukan sholat. Usai pergulatan panjang di benaknya, ia memberanikan diri untuk mengunjungi tempat itu.
Beberapa jam mengunjungi di tempat itu, ia mendapati dirinya mengucap syahadat. Usai syahadat, waktu shalat dzuhur tiba dan ia pun diundang untuk berpartisipasi. Ia berdiri dalam deretan dengan para mahasiswa lainnya, dipimpin imam yang bernama Ghassan. Jeffrey mulai mengikuti mereka shalat berjamaah.

Jeffrey ikut bersujud. Kepalanya menempel di karpet merah-putih. Suasananya tenang dan hening, bagaikan semua suara dimatikan. Ia lalu kembali duduk di antara dua sujud.
“Saat saya melihat ke depan, saya bisa melihat Ghassan, di sisi kiri saya, di tengah-tengah, di bawah jendela yang menerangi ruangan dengan cahaya. Dia sendirian, tanpa barisan. Dia mengenakan jubah putih panjang. Selendang (scarf) putih menutupi kepalanya, dengan desain merah.”
“Mimpi itu! Saya berteriak dalam hati. Mimpi itu, persis! Saya telah benar-benar melupakannya, dan sekarang saya tertegun dan takut. Apakah ini mimpi? Apakah saya akan terbangun? Saya mencoba fokus apa yang terjadi untuk memastikan apakah saya tidur. Rasa dingin mengalir cepat ke seluruh tubuh saya. Ya Tuhan, ini nyata! Lalu rasa dingin itu hilang, berganti rasa hangat yang berasal dari dalam. Air mata saya bercucuran.


Ucapan ayahnya sepuluh tahun silam terbukti. Ia kini berlutut, dan wajahnya menempel di lantai. Bagian tertinggi otaknya yang selama ini berisi seluruh pengetahuan dan intelektualitasnya kini berada di titik terendah, dalam sebuah penyerahan total kepada Allah SWT.

Jeffrey Lang merasa Tuhan sendiri yang menuntunnya kepada Islam. “Saya tahu Tuhan itu selalu dekat, mengarahkan hidup saya, menciptakan lingkungan dan kesempatan untuk memilih, namun tetap meninggalkan pilihan krusial kepada saya,” ujar Jeffrey kini.

Jeffrey kini professor jurusan matematika University of Kansas dan memiliki tiga anak. Ia menulis tiga buku yang banyak dibaca oleh Muslim AS: Struggling to Surrender (Beltsville, 1994); Even Angels Ask (Beltsville, 1997); dan Losing My Religion: A Call for Help (Beltsville, 2004). Ia memberi kuliah di banyak kampus dan menjadi pembicara di banyak konferensi Islam.

Ia memiliki tiga anak, dan bukan sebuah kejutan anaknya memiliki rasa keingintahuan yang sama. Jeffrey kini harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sama yang dulu ia lontarkan kepada ayahnya. Suatu hari ia ditanya oleh anak perempuannya yang berusia delapan tahun, Jameelah, usai mereka shalat Ashar berjamaah. “Ayah, mengapa kita shalat?”

“Pertanyaannya mengejutkan saya. Tak sangka berasal dari anak usia delapan tahun. Saya tahu memang jawaban yang paling jelas, bahwa Muslim diwajibkan shalat. Tapi, saya tak ingin membuang kesempatan untuk berbagi pengalaman dan keuntungan dari shalat. Bagaimana pun, usai menyusun jawaban di kepala, saya memulai dengan, ‘Kita shalat karena Tuhan ingin kita melakukannya’,”

“Tapi kenapa, ayah, apa akibat dari shalat?” Jameela kembali bertanya. “Sulit menjelaskan kepada anak kecil, sayang. Suatu hari, jika kamu melakukan shalat lima waktu tiap hari, saya yakin kami akan mengerti, namun ayah akan coba yang terbaik untuk menjawab pertanyaan kamu.”

Sunday, September 18, 2016

Nubuwwah Akhir Zaman Hingga Kiamat – Part 2


Akhir Zaman Muslimin Akan Berdamai Dengan Bangsa Rumawi
Oleh: Dzulqarnain



Peristiwa penting di akhir zaman adalah berdamainya (gencatan senjata) antara Romawi dengan Kaum Muslimin. Hal tersebut sebagaimana nubuwwah Rosulullah saw., :
Kalian akan shulh (mengadakan perjanjian damai, gencatan senjata) dengan Bangsa Romawi dengan perjanjian aman. Kemudian kalian dan mereka (Romawi) akan memerangi musuh di belakang kalian. Kalian akan dimenangkan Allah, dan meraih ghanimah dengan selamat. Setelah itu kalian (dan Romawi) berkumpul di Marj Dzi Tullul (sebuah dataran tinggi). Lantas seorang Salibis Romawi mengangkat salib sambil berteriak: “Hidup Salib!” Seorang mukmin kemudian marah dan mematahkan salib tersebut. Kemudian Romawi marah dan mengkhianati perjanjian, dan kaum muslimin bersatu melawan mereka. Saat itulah terjadi Al Malhamah Al Kubra.” [HR. Abu Dawud, 4292]

Hadits di atas secara jelas memaparkan kronologis hubungan Romawi dengan Kaum Muslimin di akhir zaman hingga terjadinya Al Malhamah Al Kubro.

Di hadits yang diriwayatkan oleh Nafi’ bin Utbah,

Rosulullah SAW., bersabda :

Kalian akan memerangi (menaklukkan/membebaskan) semenanjung Arab dan Allah SWT., akan menaklukkan-nya untuk kalian. Kemudian Parsi juga ditaklukkan Allah SWT., untuk kalian. Setelah itu Romawi pun juga ditaklukkan. Terakhir kalian akan memerangi dajjal, maka Allah memberikan kemenangan (bagi kalian) atas dajjal.” Nafi’ berkata, “Hai Jabir, ketahuilah bahwa kita tidak akan melihat dajjal muncul sebelum Romawi ditaklukkan terlebih dahulu."

Mengutip pendapat DR. Muhammad Ahmad Al-Mubayyadh dalam buku “Ensiklopedi Akhir Zaman” dikatakan :

…besar kemungkinan maksud penaklukkan Romawi ialah (mencakup) peperangan antara kaum Muslimin melawan Romawi di akhir zaman”.

Dalam bukunya tersebut, DR. Muhammad Ahmad Al-Mubayyadh mengatakan bahwa Romawi di akhir zaman adalah AS dan sekutu-sekutunya, adapun musuh bersama yang digempur (bersama umat Islam) adalah Yahudi Israel.

Kembali kepada perjanjian damai antara kaum Muslimin dengan Romawi, ternyata terjadi pasca penaklukkan Syam dan pengosongan Yastrib, sebagaimana penjelasan dari hadits berikut :

Dan periode keenam adalah perdamaian antara kalian (kaum muslimin) dengan Bani Ashfar (yaitu Romawi atau Eropa). Kemudian mereka akan berjalan (memerangi kalian) di atas 80 ghayah.” Aku (perawi hadits) bertanya: “Apa itu ghayah?” Beliau menjawab: “Yaitu bendera. Masing-masing bendera membawahi 12.000 pasukan. Perkemahan kaum muslimin ketika itu adalah di sebuah tempat yang bernama Ghuthah di kota yang bernama Damasykus.
[HR. Ahmad: 22860. Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Tahqiq Musnad Ahmad berkata: “Isnadnya shahih menurut kriteria Muslim.”]


Riwayat di atas menunjukkan bahwa kaum Muslimin telah menguasai Damaskus saat “ash shulh” (perjanjian damai/gencatan senjata) dilaksanakan.

Adapun terkait dengan pengosongan Madinah (Yatsrib) diriwayatkan sebagai berikut :

Kemakmuran Baitul Maqdis diikuti dengan pengosongan Yatsrib. Pengosongan Yatsrib diikuti dengan Al Malhamah, Al Malhamah dengan Penaklukan Konstantin, Penaklukan Konstantin dengan keluarnya Dajjal. [HR. Abu Dawud 4294]

Dengan demikian, peristiwa menuju Al Malhamah Al Kubro akan melewati fase-fase berikut ini, wallahu’alam bis showab.

1. Penaklukan Jazirah,
2. Penaklukan Syam,
3. Pengosongan Madinah
4. Penaklukan Persia,
5. Al Malhamah Al Kubro (penaklukan Romawi)
6. Penaklukan Konstantin yang kedua
7. Kemunculan Dajjal.

Berdasarkan zhahir hadits yang dikutip di awal, yang pasti adalah bahwa peristiwa “ash shulh” dan memerangi “musuh dari belakang” terjadi beruntun, karena Rasul menggunakan kata “fa” yang maksudnya tidak ada jeda.

Sedangkan peristiwa Al Malhamah Al Kubro sendiri terjadi saat kaum muslimin pulang dari peperangan melawan “musuh dari belakang” tadi.

Artinya, jeda hanya terjadi sesaat seusai peperangan sebelum akhirnya kaum Muslimin pulang, dan Rasul tidak menceritakan adanya peristiwa besar yang lain sebelum terjadinya Al Malhamah Al Kubro.

Faktanya, pada saat peristiwa “ash shulh” dan Al Malhamah Al Kubro terjadi, kaum muslimin sudah memiliki benteng dan perkemahan di bumi Syam yang diberkahi. Artinya, bumi Syam sudah ditaklukan oleh kaum Muslimin, sebagaimana hadits berikut:

Perkemahan kaum muslimin pada hari Al Malhamah adalah di Ghouthah, dekat kota Damaskus, itulah sebaik-baik tempat bagi kaum muslimin pada hari itu. [Mustadrak Ala Shahihain Kitabul Fitan wal Malahim 8543]

Dengan kata lain, setelah Persia ditaklukan barulah kaum Muslimin menaklukan Syam, lalu mengadakan perjanjian dengan Romawi, lalu memerangi “pasukan dari belakang”, lalu terjadilah Al Malhamah Al Kubro, yaitu pertempuran besar-besaran antara Romawi melawan umat Islam dan akhirnya Romawi dapat ditaklukan dengan idzin Allah.

Adapun peristiwa Al Malhamah Al Kubro terjadi setelah Romawi mendatangi A’maq atau Dabiq, sebagaimana hadits :
Tidak akan terjadi kiamat sehingga bangsa Romawi sampai di A’maq atau Dabiq. Kedatangan mereka dihadapi oleh sebuah pasukan yang keluar dari kota Madinah yang merupakan penduduk bumi yang terbaik pada masa itu. Pada saat mereka telah berbaris, bangsa Romawi menggertak: “Biarkan kami masuk untuk membuat perhitungan dengan orang-orang kami yang kalian tawan!” Mendengar gertakan tersebut, kaum muslimin menjawab : “Demi Allah, kami tak akan membiarkan kalian mengusik saudara-saudara kami!”

Maka terjadilah peperangan antara kedua pasukan. Sepertiga pasukan Islam akan melarikan diri, maka Allah tidak akan mengampuni mereka selama-lamanya. Sepertiga pasukan Islam akan terbunuh, merekalah sebaik-baik syuhada. Sepertiga yang lainnya akan memperoleh kemenangan dan tidak akan terkena fitnah sedikitpun selamanya. Kemudian mereka menaklukan kota Konstantinopel. Ketika mereka tengah membagi-bagi harta rampasan perang dan telah menggantungkan pedang-pedang mereka pada pohon Zaitun, mendadak suara teriakan setan, “Sesungguhnya Al Masih Ad Dajjal telah menguasai keluarga kalian!”


Mereka pun bergegas pulang, namun ternyata berita itu bohong. Tatkala mereka telah sampai di Syam, barulah Dajjal muncul. Ketika mereka tengah mempersiapkan diri untuk berperang dan merapikan barisan, tiba-tiba datang waktu shalat. Pada saat itulah Nabi Isa bin Maryam turun. Ia memimpin mereka. Begitu melihat Nabi Isa, musuh Allah si Dajjal pun meleleh bagaikan garam yang mencair. Sekiranya ia membiarkannya, sudah tentu musuh Allah itu akan hancur leleh. Namun Allah membunuhnya melalui perantara Nabi Isa, sehingga beliau menunjukkan kepada kaum muslimin darah musuh Allah yang masih segar menempel di ujung tombaknya. [HR. Muslim 2897]

Hadits di atas menunjukkan bahwa kaum muslimin “menahan” sebagian orang Romawi yang disebut sebagai “saudara” oleh kaum muslimin. Para ulama menafsirkan bahwa mereka adalah orang Romawi yang telah masuk Islam dan tinggal bersama kaum muslimin di Syam.

Peristiwa ini mengingatkan kita akan peristiwa pasca shulhul Hudaybiyah, dimana orang-orang musyrikin Makkah memaksa mereka yang berhijrah ke Madinah setelah perjanjian disepakati, tidak diperkenankan dan dipaksa untuk pulang ke Makkah, walaupun akhirnya mereka tidak pulang ke Makkah.

Adapun yang terjadi di akhir zaman kelak, bahwa setelah kaum muslimin dan Romawi bersama-sama selesai memerangi “musuh dari belakang”, banyak di antara orang-orang Romawi yang lebih memilih tinggal di Syam (berislam). Hal ini membuat orang-orang Romawi geram dan menghendaki mereka untuk kembali (murtad), namun kaum muslimin melindunginya. Saat itulah Al Malhamah terjadi yang kemudian diikuti beberapa peristiwa sebagaimana yang diriwayatkan tersebut.

Berlanjut Disini
Nabi Isa As. Turun Untuk Membunuh Dajjal




Sunday, August 28, 2016

Jerry D Gray - Konspirasi Yahudi dan Kaum Thogut [VIDEO]


Jerry D. Gray adalah seorang mualaf juga seorang Naturalisasi. Dia rela menanggalkan statusnya sebagai warga negara adidaya di abad ini (Amerika) yang notabenya adalah sebuah Negara impian bagi sebagian manusia di bumi ini, melihat dari taraf hidup warganya yang serba bekecukupan, fasilitas sebagai penunjang kehidupan yang lengkap, pendapatan tinggi penduduknya disetiap tahunnya, dan masih banyak keunggulan lain dibanding dengan negara kita. Tetapi itu semua tidak membuat seorang Jerry terpana dengan semua itu, justru ada hal-hal lain yang membuat dia muak berstatus sebagai Warga Negara Amerika.

Tidak banyak orang yang menyangka Jerry D. Gray, warga AS yang pernah menjadi prajurit angkatan udara negara adidaya itu, ternyata seorang mualaf yang tekun beribadah.

Bagi penulis sejumlah buku di antaranya “Deadly Mist”, “Demokrasi Barbar ala AS" dan “Dosa-dosa Media Amerika” itu, ketertarikan terhadap Islam dimulai justru dari tanah Arab tempat ajaran Islam itu sendiri pertama kali diturunkan kepada Rasul Allah SWT.

Beristrikan seorang perempuan Tasikmalaya dan dikaruniai seorang anak laki, Jerry menyatakan memiliki banyak kegiatan di Indonesia yang membuat dia makin betah yaitu memberikan pengajian, berbagi pengalaman dan menulis buku.





*Thogut: sesuatu yang disembah atau ditaati selain Allah Swt / yang melampaui batas.




Saturday, August 27, 2016

Belas Kasih Yang Kita Miliki Tak Terlewatkan Oleh Sang Pencipta [VIDEO]


Siapa sih yang tidak kenal Ustad Yusuf Estes...
Beliau adalah mantan Pendeta Kristen yang kemudian mendapat hidayah dari Allah SWT menjadi seorang muslimin. Beliau adalah sosok ustad yang fenomenal.

Ceramah beliau tentang "Belas kasih yang kita miliki tak terlewatkan oleh Sang Pencipta."
Lengkap dengan subtitle Indonesia.

Selamat menyaksikan





Wednesday, June 8, 2016

Mantan Direktur NATO: Disalib dan Disiksa, Tuhan Seperti Tak Punya Kuasa


Tauhid yang murni di dalam Islam itulah yang akhirnya membuat Hoffman memeluk Islam. Keyakinannya semakin kuat ketika ia bertugas di Aljazair dan melihat betapa umat Islam Aljazair begitu sabar, kuat dan tabah menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan dari umat lain. Sangat bertolak belakang dengan kepribadian masyarakat Barat yang rapuh.

Direktur NATO Masuk Islam - Namanya Wilfried Hoffman. Ia dilahirkan dalam keluarga Katholik Jerman pada 3 Juli 1931. Hoffman meraih gelar Doktor di bidang ilmu hukum dan yurisprodensi dari Universitas Munich, Jerman tahun 1957. Pada tahun 1983-1987, ia ditunjuk menjadi direktur informasi NATO di Brussels.

Jerman sangat mengenal Hoffman, karena setelah bertugas di NATO, ia diangkat menjadi diplomat (duta besar) Jerman untuk Aljazair tahun 1987 dan dubes di Maroko tahun 1990-1994. Karenanya, Jerman menjadi gempar seketika saat Hoffman menerbitkan buku yang berjudul Der Islam als Alternative (Islam sebagai Alternatif).

Jerman terkejut, ternyata salah satu putra terbaiknya telah memeluk Islam. Hoffman sebenarnya telah masuk Islam sejak lama, jauh sebelum bukunya dipublikasikan pada 1992. Ia masuk Islam bahkan sebelum bertugas ke Aljazair dan Maroko.

Bagaimana ia mendapatkan hidayah? Saat itu, Hoffman sangat prihatin pada dunia barat yang mulai kehilangan moral. Agama yang dulu dianutnya dirasakannya tak mampu mengobati rasa kekecewaan dan keprihatinannya akan kondisi tersebut.
Hoffman juga memiliki sejumlah pertanyaan teologi yang belum terjawab, terutama mengenai dosa warisan. Ia juga tidak puas dengan jawaban mengapa tuhan memiliki anak dan harus pasrah disiksa hingga mati di kayu salib.

Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak punya kuasa,” tegasnya.

Hoffman bahkan sempat “meragukan” keberadaan Tuhan. Ia lalu melakukan analisa terhadap karya-karya filsuf seperti Wittgenstein, Pascal, Swinburn, dan Kant, hingga akhirnya ia dengan yakin menemukan bahwa Tuhan itu ada. Jika Tuhan itu ada, bagaimana manusia berkomunikasi dengan-Nya?

Hoffman menemukan, jawabannya adalah wahyu. Maka ia pun membandingkan berbagai “wahyu” yang ada. Setelah membandingkan kitab suci Yahudi, Kristen dan Islam itulah Hoffman mendapati Islam-lah yang secara tegas menolak dosa warisan. Ia juga mendapati, dalam Islam seseorang langsung berdoa kepada Allah, bukan melalui perantara atau tuhan-tuhan lainnya.

Seorang Muslim hidup di dunia tanpa pendeta dan tanpa hierarki keagamaan; ketika berdoa, ia tidak berdoa melalui Yesus, Maria, atau orang-orang suci, tetapi langsung kepada Allah,”kata Hoffman.

"Saya menyaksikan kesabaran dan ketahanan orang-orang Aljazair dalam menghadapi penderitaan ekstrem, mereka sangat disiplin dan menjalankan puasa selama bulan Ramadhan, rasa percaya diri mereka sangat tinggi akan kemenangan yang akan diraih. Saya sangat salut dan bangga dengan sikap mereka," ujarnya.

Ketika keislamannya diketahui publik pasca terbitnya buku Der Islam als Alternative, media massa dan masyarakat Jerman serentak mencerca dan menggugat Hoffman.

Media massa sebesar Del Spigel pun turut mencercanya. Bahkan pada kesempatan berbeda, televisi Jerman men-shooting Hoffman saat ia sedang melaksanakan shalat di atas Sajadahnya, di kantor Duta Besar Jerman di Maroko, sambil dikomentari oleh sang reporter:
"Apakah logis jika Jerman berubah menjadi Negara Islam yang tunduk terhadap hukum Tuhan?"

Hoffman tersenyum mendengar komentar sang reporter. "Jika aku telah berhasil mengemukakan sesuatu, maka sesuatu itu adalah suatu realitas yang pedih." 

Artinya, lelaki yang menambah namanya dengan “Murad” (yang dicari) ini, paham bahwa keislamannya akan membuat warga Jerman marah. Namun ia sadar, segala sesuatu harus ia hadapi apapun resikonya.

Bagi Murad Wilfried Hoffman, demikian nama lengkapnya setelah menjadi Muslim, Islam adalah agama yang rasional dan maju.

1). Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.
2). Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan.
4). Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.

(Qs Al Ikhlas)

" Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara." ( QS 4:171 )

Ketua Pengarah NATO dari Jerman yg telah mengambil keputusan bijak memeluk Islam yang baginya adalah jawaban kenapa moral barat semakin sesat.