Showing posts with label sholat. Show all posts
Showing posts with label sholat. Show all posts

Wednesday, June 14, 2017

Inilah Doa anjuran Rasulullah saat Lailatul Qadar


Satu ketika Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW. ihwal doa yang baik saat malam Lailatul Qadar.

Ilustrasi permukaan bulan di malam hari.
Kehadiran Lailatul Qadar--KBBI menganjurkan penulisannya "Lailatulkadar"--ditunggu siapa pun.

Ia merupakan malam penuh berkah dan kemuliaan. Ibadah pada malam tersebut dianggap lebih baik ketimbang amalan di bulan lain, meskipun seribu bulan lamanya.
Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan waktu pasti kehadirannya. Kepastiannya dirahasiakan oleh Yang Maha Kuasa.

Nabi Muhammad SAW. mengisyaratkan Lailatulkadar datang pada sepuluh hari pengujung Ramadan. Karenanya, beliau memperbanyak ibadah dan amal saleh pada malam-malam itu.

Aisyah mengatakan, "Saat memasuki sepuluh akhir Ramadan, Rasulullah SAW. fokus beribadah, memperbanyak ibadah di malam hari, dan membangunkan keluarganya untuk beribadah" (HR: al-Bukhari).
Hadis tersebut dijadikan Ibnu Bathal sebagai landasan bahwa Lailatulkadar terdapat pada sepuluh akhir Ramadan.

Abu Ishaq al-Syirazi, dalam kitabnya al-Tanbih menuliskan, "Dianjurkan mencari Lailatulkadar di setiap malam Ramadan, terutama malam sepuluh akhir dan malam ganjil. Lailatulkadar paling sering diharapkan terjadi pada malam 21 dan 23. Saat malam Lailatulkadar disunahkan membaca doa, 'Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni (Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, menyukai orang yang minta ampunan, ampunilah aku)'"

Kebanyakan ulama memang berpendapat bahwa Lailatulkadar terdapat pada sepuluh akhir Ramadan, terutama pada malam ganjil.
Namun, tak berarti Lailatulkadar tidak bisa datang pada malam genap atau sebelum sepuluh terakhir. Sangat mungkin Lailatulkadar hadir di malam genap dan sebelum sepuluh terakhir.

Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah beribadah sebanyak mungkin dari awal hingga akhir Ramadan. Bisa jadi satu dari sekian banyak ibadah yang kita kerjakan bertepatan dengan malam penuh kemuliaan itu.

Dalam hadis riwayat Ahmad disebutkan, "Siapa yang mendirikan (memperbanyak ibadah) pada malam Lailatulkadar atas dasar keimanan dan keikhlasan, maka dosanya diampuni, baik yang berlalu maupun yang akan datang."
Hadis ini mengisyaratkan agar kita terus-menerus dan menjaga konsistensi ibadah di bulan Ramadan, karena kita tidak tahu kapan datangnya Lailatulkadar.


Aisyah pernah bertanya kepada Rasul, "Wahai Rasul, andaikan aku bertemu Lailatulkadar, doa apa yang bagus dibaca? Rasul menjawab, 'Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni (Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, menyukai orang yang minta ampunan, ampunilah aku)'" (HR: Ibnu Majah).

Sekali lagi, kita tidak tahu waktu pasti terjadinya Lailatulkadar. Karenanya, doa yang diajarkan Rasul sangat baik untuk dibaca pada tiap malam di bulan Ramadan. Wallahu a'lam.

Friday, May 26, 2017

Inilah Dampak Negatif Dari Shaf Yang Tidak Lurus


Dampak Negatif Dari Shaf Yang Tidak Lurus

Shalat yang dilakukan oleh seorang Muslim memiliki dampak secara langsung dalam prilakunya. Allah Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ 
Sesungguhnya shalat itu bisa mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar [Al-Ankabut/29:45]

Tentu hal ini akan terwujud, jika dia melaksanakan shalat dengan benar sesuatu dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dalam syari’at ini. Sebaliknya, jika tidak dilaksanakan dengan benar, maka keburukanlah yang akan menimpanya. Termasuk, masalah meluruskan shaf ketika melaksanakan shalat secara berjama’ah. Keharmonisan hati adalah buahnya. Namun jika shafnya berantakan dan tidak lurus, maka dampak negatif pasti akan menimpa. Berikut diantara dampak negatif dari tidak meluruskan shaf.

Shaf  Yang Tidak Lurus Menyebabkan Hancurnya Umat

Dari Abu Mas’ûd Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اسْتَوُوا وَلاَ تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ
Luruskanlah dan janganlah kalian melenceng, karena hati kalian pun akan melenceng (bercerai-berai).[1]

Dari hadits tersebut, tampak jelas bagi kita, tanpa menyisakan ruang untuk keraguan sedikitpun  bahwa tidak meluruskan shaf menyebabkan perselisihan yang akan menumbuhkan rasa gentar, menyeret kepada kehancuran dan kehilangan kekuatan.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
Hendaklah kalian taat kepada Allâh dan Rasul-Nya! Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu. [Al-Anfâl/8:46]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لَا تَخْتَلِفُوا فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ اخْتَلَفُوا فَهَلَكُوا
Janganlah kalian berselisih! Karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah berselisih hingga mereka binasa. [HR. Al-Bukhâri, no. 2410]

Dengan memadukan nash-nash yang ada, maka maknanya menjadi : Luruskanlah dan janganlah kalian berselisih! Karena itu akan menyebabkan kalian binasa, menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian.”

Apakah kita menginginkan kehancuran yang lebih dari ini? Ataukah kita menanti sifat gentar dan pengecut yang lebih parah lagi?! Lihatlah realita kita saat ini! Sementara umat-umat lain telah bersekongkol untuk menghabisi kita, sebagaimana para pemangsa yang sedang kelaparan telah berkumpul di pinggan makan mereka.

Lihatlah negeri-negeri kaum Muslimin telah banyak diduduki dan dijajah oleh musuh-musuh mereka! Namun musuh-musuh itu belum puas, mereka terus membuat makar agar bisa menaklukkan negeri-negeri kaum Muslimin yang tersisa. Kita tidak punya daya dan kekuatan dihadapan umat-umat yang lain. Tak ada suara yang terdengar selain keluhan, rintihan, permintaan untuk diperlakukan secara adil, permohonan agar serangan dan serbuan yang dilancarkan kepada kaum Muslimin dihentikan. Kita telah terkotak-kotak dan terbagi ke dalam banyak golongan dan kelompok serta masing-masing bangga dengan kelompoknya.

Allâh Azza wa Jalla Berfirman :

كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). [Al-Mu’minûn/23:53]

Sungguh, hati telah bercerai-berai, jihad pun telah terbengkalai, seakan-akan tak ada lagi yang tersisa dari jihad selain sekadar pembicaraan tentangnya. Lantas, sampai kapankah kita akan terus begini?! Sampai kapankah kita dalam keadaan terpecah-belah, berselisih dan tersia-siakan? Apakah belum tiba saatnya bagi hati kita untuk tunduk penuh khusyuk mengingat Allâh Azza wa Jalla dan ajaran-ajaran agama kita? Wahai orang-orang yang terpilih dan terbaik, apakah belum tiba saatnya bagi kalian untuk saling bertaut hati dan saling mencintai?!

Maka, marilah kita bergegas untuk meluruskan shaf-shaf kita! Dengan izin Allâh, kita akan bisa mengharmoniskan hati kita. Sungguh, keharmonisan hati itu sangat bermanfaat bagi kita dan sekaligus sebagai pukulan telak terhadap para syaitan, baik dari bangasa jin maupun manusia.

Syaitan Menyelinap di Sela-sela Shaf

 Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رُصُّوا صُفُوفَكُمْ ، وَقَارِبُوا بَيْنَهَا ، وَحَاذُوا بِالأعْنَاقِ؛ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إنِّي لأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ ، كَأَنَّهَا الحَذَفُ
Rapatkanlah shaf-shaf kalian! Dekatkanlah di antara shaf-shaf tersebut! Jadikanlah leher (dan pundak) dalam posisi sejajar . Demi Dzat Yang jiwaku ada di tangan-Nya! Sesungguhnya aku benar-benar melihat syaitan masuk dari celah shaf, seakan-akan syaitan itu anak-anak kambing[2]

Perhatikanlah nash-nash ini, kemudian tanyakan pada diri kita, siapakah yang menyelinap di sela-sela celah shaf itu? Jawabnya ada pada sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَلاَ تَذَرُوْا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ
Janganlah kalian biarkan ada celah-celah buat syaitan!

Siapakah syaitan ini? Kenalilah dia dari firman Allâh Azza wa Jalla :

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu). Sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongan supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala [Fâthir/35:6]

Dan tak bisa terlupakan dari benak kaum Muslimin bahwa masjid adalah belahan bumi yang paling dicintai Allâh Azza wa Jalla , sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا
Negeri (tempat) yang paling dicintai Allâh adalah masjid-masjidnya, sedangkan negeri yang paling dibenci Allâh adalah pasar-pasarnya.[3]

sementara shalat termasuk amalan yang paling dicinta Allâh Azza wa Jalla .
Lalu, bagaimana bisa disaat berada di tempat, waktu[4] dan amalan yang paling utama, engkau menjauh dari saudara-saudaramu, lalu mendekat kepada syaitan? Bagaimana bisa kita menjauhkan saudara-saudara dan mendekatkan musuh-musuh?! Sungguh sangat ironis!

Bagaimana bisa kita menjamu syaitan di rumah-rumah kaum Mukminin yang bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla ?[5]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan perbuatan membiarkan ada celah-celah dalam shaf, karena syaitan akan berhamburan menuju kearah celah itu dan mengisinya seperti halnya anak-anak domba yang masih kecil.

Bahkan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai bersumpah atas nama Allâh saat memberitahukan hal ini, padahal sumpah itu benar-benar sumpah yang agung dan diucapkan pula orang Nabi kita yang agung Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sumpah ini terdapat banyak sekali makna-makna ubûdiyyah dan merendahnya Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Allâh Azza wa Jalla .

Mengingat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui dengan sebenar-benarnya apa yang menjadi konsekuensi dari perihal diri Beliau yang berada di tangan Allâh Sang Pencipta Yang Maha Perkasa lagi Maha Besar.


Setelah mengucapkan sumpahnya –yang merupakan bentuk penegasan yang paling tinggi-, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangkan lagi piranti-piranti penegas yang lain; yaitu huruf taukîd (huruf yang menunjukkan makna penegasan) inna, lalu huruf lam dalam kata la-arâ (aku benar-benar melihat); kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepada kita apa yang Beliau lihat dengan memberikan gambaran nyata serta menyerupakannya dengan sesuatu yang bisa diindra (sesuatu yang konkrit).

Ini semua adalah berita dari orang yang bisa menyaksikannya langsung, bukan berdasarkan berita yang dia dengar dari orang lain. Dan pasti beda antara orang yang menyaksikan sesuatu secara langsung dengan hanya mendengarnya dari sebuah berita.[6]  Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa melihat apa yang tidak kita lihat, sebagaimana sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kesempatan berbeda:

إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ وَأَسْمَعُ مَا لَا تَسْمَعُونَ
Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kalian lihat dan saya mendengar apa yang tidak kalian dengar.[7]

Lalu setelah semua ini, bagaimana bisa kita rela dengan syaitan dan kita enggan dengan kaum Mukminin? Bila ada saudara Muslim yang mendekat kita, kita menjauh dan menghindar, sebaliknya bila syaitan terlaknat mendekat kita, kita menyambutnya dengan suka cita?!

Pahala orang yang menutup celah-celah shaf

Karena hal itu dan lainnya, Allâh Azza wa Jalla mengangkat derajat orang yang mau menutup celah shaf dan Allâh Azza wa Jalla bangunkan untuknya rumah di surga. Ini berdasarkan apa yang Aisyah Radhiyallahu anhuma riwayatkan, ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً، وَ بَنَى لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
Barangsiapa yang menutup celah shaf, maka Allâh Azza wa Jalla akan mengangkatnya satu derajat dan Allâh bangun untuknya rumah di surga.[8]

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma , ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خِيَارُكُمْ أَلْيَنُكُمْ مَنَاكِبَ فِي الصَّلَاةِ وَمَا مِنْ خُطْوَةٍ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ خُطْوَةٍ مَشَاهَا رَجُلٌ إلىَ فُرْجَةٍ فيِ الصَّفِّ فَسَدَّهَا
Yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling lunak pundaknya dalam shalat[9]. Dan tidak ada satu langkah yang lebih agung pahalanya daripada langkah yang diayunkan seseorang untuk menuju celah dalam shaf lalu ia menutupnya.[10]

Bantahan Terhadap Yang Menganggap Aneh Masuknya Syaitan Ke Sela-Sela Shaf

Sebagian orang ada yang merasa heran ketika mendengar bahwa syaitan bisa masuk ke celah-celah shaf. Sikap sebagian orang ini, sungguh sangat mengherankan! Sebab, kalaulah yang menganggap aneh itu bukan seorang Muslim, mungkin masalahnya agak ringan. Namun kalau itu muncul dari seorang Muslim, ini sama sekali tidak bisa diterima akal sehat.
Karena mengimani apa yang diberitakan oleh Nabi Muhammad SAW , Nabi yang benar lagi dibenarkan oleh Allâh Azza wa Jalla merupakan buah dan konsekuensi dari keimanan terhadap kenabian dan kerasulan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Diantara kabar yang datang dari  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah apa yang diriwayatkan Abu Sa’id  Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ فَلْيَضَعْ يَدَهُ عَلَى فِيهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مَعَ التَّثَاؤُبِ
Bila salah seorang dari kalian menguap, maka hendaklah ia meletakkan tangannya pada mulutnya. Karena syaitan masuk bersamaan dengan saat ia menguap[11]

Juga sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لَا تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَإِنَّهُ يَعْظُمُ حَتَّى يَصِيْرَ مِثْلَ الْبَيْتِ وَيَقُولُ بِقُوَّتِي صَرَعْتُهُ وَلَكِنْ قُلْ بِسْمِ اللَّهِ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَصَاغَرَ حَتَّى يَصِيْرَ مِثْلَ الذُّبَابِ
Janganlah engkau mengatakan, ‘Celaka setan!’ Karena ia akan semakin membesar hingga menjadi seperti rumah dan dia akan mengatakan, ‘Dengan kekuatankulah aku bisa menghempaskannya!’ Akan tetapi katakanlah, ‘Bismillah.’ Karena sesungguhnya bila engkau mengucapkan kalimat itu, iapun akan mengecil hingga menjadi seperti lalat.[12]

Kita telah mendengar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa syaitan bisa masuk lewat mulut seseorang ketika ia tanpa menutup mulut. Dalam kesempatan lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberitahukan bahwa sesekali syaitan bisa membesar hingga menjadi seperti rumah dan syaitan juga bisa mengecil hingga menjadi seperti lalat dengan sebab bacaan ‘Bismillah’ yang dibaca oleh seseorang Muslim.

Dan kabar tentang syaitan itu bisa masuk dalam celah-celah shaf juga datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Berhati-hatilah! Wahai saudara-saudaraku! Jangan sampai ada keraguan menyelinap ke dalam diri kita! Jika ada keraguan menyelinap ke dalam hati, itu menandakan ada kerusakan di hati dan menjadi tanda bahwa dia belum bisa menerima sepenuhnya perintah-perintah syariat yang hanîf ini.Semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa melindungi kita semua dari semua makar syaitan yang datang segala penjuru untuk menyesatkan kita dan mencari orang yang bisa menemaninya di neraka
_______
Footnote
[1] HR. Muslim, no. 432
[2] HR. Abu Daud dan An-Nasa’i. Lihat Shahîh Sunan Abi Daud, no. 621 juga Shahîh at-Targhîb wa at-Tarhîb, no. 494.
[3] HR. Muslim, no. 671
[4] Menunjuk pada hadits Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Rasûlullâh n , ‘Amalan apakah yang paling utama?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Shalat tepat pada waktunya…” HR. Al-Bukhâri, no.  527 dan Muslim, no. 85
[5] Merujuk pada sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Masjid adalah rumah setiap orang bertakwa.” HR. Thabrani dalam al-Kabîr, dan lainnya. Hadits ini dinilai sebagai hadits hasan oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shahîhah, no. 716
[6] HR. Ahmad dalam Musnadnya. Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Misykatul Mashâbîh, no. 5738
[7] HR. Tirmidzi, Shahîh Sunan Tirmidzi, no. 1882; Ibnu Mâjah, Shahîh Ibni Mâjah, no. 3378. Dan hadits ini dinilai hasan oleh syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahîh at-Targhîb wa At-Tarhîb, no. 3380
[8] HR. Al-Mahamili dalam al-Amâlî, juga Ahmad, Ibnu Mâjah tanpa ada lafazh, “Allâh bangun untuknya rumah di surga.” Lihat ash-Shahîhah, no. 1892 dan Shahîh at-Targhîb wa at-Tarhîb, no. 505
[9] yaitu yang mudah ketika dirapikan shafnya; ketika ada yang mengambil bahunya yang keluar dari shaf untuk dimajukan atau diakhirkan hingga shaf menjadi lurus
[10] HR. Thabrani dalam al-Ausath. Lihat ash-Shahîhah, no. 2533 dan Shahîh at-Targhîb wa at-Tarhîb, no. 504
[11] HR. Al-Bukhâri, no.  3289 dan Muslim, n.  2995. Dan ini lafazh yang diriwayatkan Imam Muslim.
[12] HR. Ahmad dalam Musnadnya; Abu Daud, Shahîh Sunan Abi Daud, no. 4168, dan lainnya

Monday, May 15, 2017

Bulan Yang Dinanti-nanti Akan Segera Tiba, Bulan Yang Penuh Barokah, Pahala Berlipat Ganda



Hilal Awal Ramadhan

Sesungguhnya bulan Ramadhan yang mulia ini adalah bulan puasa dan shalat di malam harinya. Dan bulan ini adalah bulan istimewa yang khusus untuk Al-Qur’an. Sebab, inilah bulan dimana Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi kehidupan manusia baik didunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman,

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al-Baqarah 2 : 185)

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam, karena Allah Ta’ala memberikan discount dan bonus besar-besaran serta mengobral pahala. Allah Ta’ala melipatgandakan pahala kebaikan yang dilakukan setiap manusia hingga 10 sampai 700 kali lipat.

Hal ini seperti hadits Nabi yang artinya:

“Semua amalan anak adam akan dilipatgandakan (balasannya), satu kebaikan akan dibalas dengan 10 sampai 700 kali lipat.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Kecuali puasa, sesungguhnya itu untuk-Ku, dan Aku yang langsung membalasnya. Hamba-Ku telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku.” (HR. Muslim)
Sesiap Apakah Kita Menghadapi Ramadhan Tahun Ini?

Selama bulan Ramadhan kita diperintahkan untuk selalu menegakkan ketaatan kepada Allah Ta’ala, disamping melaksanakan kewajiban puasa. Banyak amal ibadah yang kita lakukan sebagai wujud menegakkan bulan Ramadhan, diantaranya yaitu shalat qiyamul lail dan membaca Al-Qur’an.
Sebagaimana yang dituliskan oleh Imam Al-Shan’any dalam kitabnya Subulus-Salam,
“Menegakkan bulan Ramadhan, yaitu menegakkan malam bulan Ramadhan dengan shalat atau membaca Al-Qur’an.” (Juz II, hlm: 173)

Ketika sudah masuk pada bulan Ramadhan seperti sekarang ini, semua orang setiap habis shalat ashar, shalat tarawih, dan bahkan shalat subuh, mereka akan berlomba-lomba untuk membaca Al-Qur’an dan sebanyak mungkin untuk mengkhatamkannya. Di mushola dan masjid, suara membaca Al-Qur’an silih berganti terdengar. Memang membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan berbeda ketika dibaca di sebelas bulan yang lain. Di bulan-bulan biasa ketika membaca satu huruf, kita akan diberi balasan pahala dengan sepuluh kebaikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dalam kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan. Saya tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)

Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Oleh sebab itu, perbanyaklah membaca Al-Qur’an itu, baik di luar shalat maupun di dalam shalat, seperti pada saat shalat tarawih. Semakin banyak jumlah ayat Al-Qur’an yang dibaca dalam shalat tarawih, maka semakin baik. Meskipun membaca surat selain Al-Fatihah di dalam shalat adalah suatu perbuatan yang bersifat anjuran atau sunnah, namun bagi setiap orang yang membaca Al-Qur’an dalam shalat tarawih, akan mendapatkan balasan pahala yang besar. Sebab satu amalan sunnah pada bulan Ramadhan, bernilai seperti satu amalan wajib di luar Ramadhan.
Perbanyak Tadarus (Membaca Alquran)

Membaca Al-Qur’an di luar shalat saja pahalanya besar, apalagi di dalam shalat, dan apalagi pada bulan Ramadhan, tentu Allah akan memberikan pahala yang berlipat ganda.
Apabila Rasulullah melaksanakan qiyam Ramadhan atau shalat tarawih, beliau memperpanjang bacaan Al-Qur’an, lebih panjang daripada shalat-shalat yang lain. Beliau pernah shalat malam pada bulan Ramadhan, di dalam shalat itu beliau membaca surat Al- Baqarah, An-Nisa dan Ali-‘lmran. Setiap kali beliau berjumpa ayat tentang ancaman, beliau berhenti sejenak untuk memohon perlindungan. (HR. Muslim, dari Hudzaifah bin Yaman)

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim ad-Dari untuk mengimami shalat pada bulan Ramadhan. Mereka membaca sebanyak 200 ayat dalam satu rakaat, sehingga para sahabat bersandar (berpegangan) pada tongkat mereka, karena lama berdiri. Shalat baru selesai menjelang fajar. Disebutkan dalam satu riwayat, bahwa ada pula yang memasang tali di antara tiang-tiang masjid, kemudian mereka berpegangan pada tali tersebut.

Pernah juga Umar bin Khaththab mengumpulkan tiga orang penghafal Al-Qur’an, untuk menjadi imam shalat tarawih. Yang paling cepat bacaannya, beliau perintahkan untuk membaca 30 ayat pada setiap rakaat shalat tarawih. Yang bacaannya sedang, diperintahkan membaca 25 ayat pada setiap rakaat. Sedangkan yang paling lambat bacaannya, diperintahkan membaca 20 ayat setiap rakaat.

Pada masa tabi’in (masa setelah sahabat Nabi), biasanya kalau mereka melaksanakan shalat tarawih, mereka menghabiskan bacaan surat Al-Baqarah seluruhnya, dalam 8 rakaat shalat. Jika ada imam yang membaca seluruh surat Al-Baqarah dalam 12 rakaat, mereka beranggapan bahwa imam telah memperpendek bacaan shalatnya.
Perbanyak Ibadah

Memang, sesungguhnya jumlah ayat Al-Qur’an yang dibaca dalam shalat tarawih tidaklah harus seperti yang digambarkan di atas. Sebab kemampuan setiap orang berbeda-beda. Akan tetapi, sangatlah bagus dilakukan jika mampu melakukan seperti itu. Gambaran di atas menunjukkan bahwa betapa agungnya membaca Al- Qur’an itu pada bulan Ramadhan, apakah ketika shalat, terutama pada qiyam Ramadhan (shalat tarawih), maupun di luar shalat.

Demikian pula dengan membaca Al-Qur’an di luar shalat pada bulan Ramadhan. Di antara ulama masa lalu, ada yang mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an setiap dua hari dalam bulan Ramadhan. Berarti selama sebulan Ramadhan, beliau mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an sebanyak 15 kali. Ada ulama, seperti An-Nakha’i yang mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an setiap tiga hari. Ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an setiap 3 hari, tapi pada 10 hari terakhir Ramadhan, ia khatam setiap hari.

Menurut sebuah riwayat, bahwa Imam Syafi’i mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan, di luar shalat, sebanyak 60 kali. Demikian juga yang dilakukan oleh Imam Abu Hanifah. Subhaanallah. Apabila telah datang bulan Ramadhan, maka Imam Malik menghentikan sementara kegiatan membaca hadits-hadits dan belajar kepada para ulama, lalu berkonsentrasi untuk membaca Al-Qur’an.
Berdoa Yang Khusu'

Demikianlah perhatian yang sangat besar diberikan oleh orang-orang shaleh, oleh para ulama terhadap Al-Qur’an pada bulan Ramadhan. Begitu pula kaum Muslimin pada umumnya, meskipun jumlah mereka mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan, masih jauh di bawah para ulama tersebut. Namun risalah singkat ini semoga bisa menjadi pemacu dan pemicu kita semua untuk semakin banyak membaca Al-Qur’an dibulan Ramadhan 1437 H ini. Wallahu a’lam… chat telegram Ikuti Kami di Facebook

Sunday, June 12, 2016

Sahkah Puasa Orang Yang Tidak Mengerjakan Shalat Kecuali Di Bulan Ramadhan


Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan: Ini ada surat yang berasal dari Sa'id Ahmad Baghdady dari Makkah al-Mukarramah, dia mengatakan, "Seseorang yang tidak mengerjakan shalat kecuali di bulan Ramadhan, apakah puasanya sah ataukah tidak?"

Jawaban: Orang yang tidak mengerjakan shalat kecuali di siang hari bulan Ramadhan, jika shalatnya di siang hari bulan Ramadhan sebagai bentuk kembali kepada Allah dan sebagai bentuk taubat dari perbuatannya meninggalkan shalat sepanjang tahun serta bertekat kuat untuk terus melaksanakan shalat di sisa umurnya, maka puasanya sah, walaupun seandainya kita berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat menjadi kafir dengan meninggalkan satu kali saja shalat fardhu, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian Salaf, karena sesungguhnya taubatnya menghapus dosa-dosa sebelumnya.

Adapun jika dia mengerjakan shalat di bulan Ramadhan dan tetap berniat tidak akan mengerjakannya jika Ramadhan telah berlalu,  jika dia meyakini bahwa shalat tidak wajib selain di bulan Ramadhan, maka dia kafir dan puasanya tertolak, dan shalat yang dia kerjakan di bulan Ramadhan tidak diterima darinya.


Sedangkan jika dia meyakini bahwa hukumnya wajib, hanya saja dia terus meninggalkannya sebagai bentuk kemaksiatan kepada Allah dan kefasikan, maka puasanya diterima (sah -pent),
namun jika dia meninggalkan shalat setelah Ramadhan dikhawatirkan dia akan mati dalam keadaan seperti ini, sehingga kematiannya sangat membahayakan berkaitan dengan keadaannya; yaitu apakah dia masih seorang muslim ataukah kafir.


-Silsilah Fatawa Nuurun Alad Darb, kaset no. 26




Saturday, June 4, 2016

Buka Puasa Bersama Sambil Reunian


Sesuatu yang sering kita jumpai di Bulan Ramadhan adalah buka bersama (bukber). Biasa dilakukan dengan teman lama, teman sekolah sambil bereuni atau dengan teman komunitas. Sebagai nasihat dan moga bisa dipertimbangkan ketika mengadakan buka bersama. Berikut beberapa kerusakan yang sering terjadi :

1. Lebih mementingkan mengisi perut dan jalin ukhuwah daripada shalat.

2. Ngobrol, haha hihi sampai Isya, kadang Shalat Maghrib ditinggalkan. Padahal meninggalkan satu shalat saja bisa menghapuskan amalan.

Barangsiapa meninggalkan Shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya.
(HR. Bukhari no. 594)

Kalau disebut menghapus amalan, berarti meninggalkan shalat bisa menghapus amalan puasa. Na’udzu billahi min dzalik..!

3. Shalat jama’ah pun ditinggalkan. Cuma karena lebih mementingkan kebersamaan di meja makan dengan teman-teman.

Lihat peringatan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bagi pria yang enggan berjama’ah,

Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah Shalat Isya dan Shalat Shubuh. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada dalam kedua shalat tersebut tentu mereka akan mendatanginya walau dengan merangkak. Sungguh aku bertekad untuk menyuruh orang melaksanakan shalat. Lalu shalat ditegakkan dan aku suruh ada yang mengimami orang-orang kala itu. Aku sendiri akan pergi bersama beberapa orang untuk membawa seikat kayu untuk membakar rumah orang yang tidak menghadiri shalat Jama’ah.
(HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651, dari Abu Hurairah)

4. Yang paling sering nih, shalat tarawihnya pun ditinggalkan sehingga tidak mendapat pahala shalat semalam suntuk bersama imam. Dari Abu Dzar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,


Sesungguhnya jika seseorang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka ia dihitung mendapatkan pahala shalat di sisa malamnya.”
(HR. Ahmad 5 : 163. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

5. Kadang campur baur antara laki-laki dan perempuan. Padahal sejak dalam shalat jama’ah saja kita sudah diperintah memisahkan antara laki-laki dan perempuan supaya tidak timbul fitnah.

Kalau mau bukber, saran kami, shalat Maghrib, Isya dan Tarawihnya tidak ditinggalkan dong. Ukhuwah kok lebih dipentingkan daripada hak Allah? Emang Allah yang memberi keselamatan ataukah teman-teman..?

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.




Penulis : Muhammad Abduh Tuasikal
sumber


Sunday, March 27, 2016

10 Kiat Menggapai Cinta Allah


Sepuluh Kiat Menggapai Cinta Allah..
[Disarikan dari kitab "Madarijus Salikin" karya Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah]

1. Membaca Al-Qur’an dengan tadabbur dan memahaminya dengan baik.
2. Mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah sunnah sesudah menunaikan ibadah wajib.
3. Selalu dzikirullah (mengingat dan berdzikir kepada Allah ) dalam segala kondisi dengan hati, lisan dan perbuatan.
4. Mengutamakan kehendak Allah di saat berbenturan dengan kehendak hawa nafsu.
5. Menanamkan dalam hati nama-nama dan sifat-sifat Allah dan memahami maknanya.
6. Memperhatikan kebaikan, karunia dan berbagai nikmat Allah kepada kita yang lahir dan batin.
7. Menundukkan hati dan diri secara total ke haribaan Allah serta merasa hina di hadapanNya.
8. Menyendiri untuk beribadah kepada Allah, bermunajat dan membaca firmanNya serta khusyu' sepenuh hati dengan adab seorang hamba di sepertiga malam terakhir kemudian ditutup dengan istighfar.
9. Bergaul dan berkumpul bersama orang-orang yang cinta Allah dan jujur dalam cintanya, mengambil hikmah dan ilmu dari mereka.
10. Menjauhkan semua sebab yang dapat memisahkan hati dengan Allah..


spread the loveshare it for the sake of Allah 🏴

Monday, April 1, 2013

Remaja Inggris berbondong-bondong memeluk Islam



LONDON – Menurut studi terbaru, di Inggris, selama 6 tahun terakhir, jumlah umat Islam telah berkembang sebesar 37% dan jumlah masjid sudah mencapai hampir 1.500, termasuk banyaknya mushola. Berdasarkan data British Institute of Gatston, rata-rata, ratusan warga Inggris masuk Islam setiap bulannya, Al-Jazeera melaporkan. 


Jumlah mualaf sangat terlihat di dalam penjara, dan jumlah remaja yang masuk Islam di sekolah, seperti dilansir KC pada Sabtu (30/3/2013).

Koresponden Al-Jazeera mengunjungi beberapa masjid dan pusat Islam di London dan menemukan bahwa diantara sejumlah mualaf terdapat begitu banyak remaja, termasuk mereka yang berasal dari Brazil, Luksemburg, dan Swedia. 

Koresponden tersebut berbicara dengan Alexandra (12), putri dari Lauren Booth, yang merupakan adik ipar mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair. Gadis itu mengatakan bahwa memeluk Islam telah mengubah ibunya dan dia memutuskan untuk mengikuti teladan sang Ibu juga. Alexandra menjadi Muslim pada Ramadhan lalu. 

Perlu diingat bahwa setiap tahun sekitar 5000 orang Inggris masuk Islam. Hal ini juga dilaporkan oleh presenter dan wartawan TV di London, Christian Backer, menurut BNews.kz.

“Di Inggris, lima ribu warga Inggris dalam setahun masuk Islam. Di negara-negara Eropa lainnya juga dilaporkan angka-angka serupa. Uniknya, sebagian besar mualaf adalah perempuan kulit putih, kelas menengah, dan kaum terpelajar. Mereka semua setuju bahwa Islam adalah agama yang benar, yang memberi mereka nilai, cara hidup yang tidak mereka temukan dalam peradaban Barat, nilai-nilai tradisional dan peran perempuan, yang dalam peradaban Barat sebagian besar telah sirna,” katanya. 


Sumber